Fashion of Chocolate
Saat outlet L’atelier Du Chocolate dibuka di Jakarta pada pertengahan 2002, hampir semua pelanggannya adalah warga asing. Maklum, mayoritas masyarakat Indonesia lebih mengenal cokelat dengan citarasa manis, tak seperti dark chocolate yang mengandung sensasi pahit ala L’atelier.Pastry & Bakery mengunjungi salah satu outlet L’atelier di kawasan Jl. Raya Kemang, Jakarta Selatan, beberapa pekan lalu, dan menemui Diana Sutandya dan Francis Mestre yang berkolaborasi untuk meluncurkan L’atelier. Dua orang ini tak hanya mengelola sebuah brand untuk produk-produk cokelat, tetapi juga memasyarakatkan taste cokelat yang berkelas kepada masyarakat Indonesia.
Mereka mengedepankan kualitas citarasa cokelat melalui pemilihan bahan-bahan dasar berkualitas premium. Untuk memastikan bahwa produk-produk cokelat di outletnya benar-benar berkualitas premium, Diana dan Francis mendatangkan bahan dasar cokelat itu dari Prancis, Belgia dan Swiss. Bahkan untuk bahan-bahan selain cokelat, seperti hazelnut, almond, susu, butter, dan beberapa bahan lain, juga didatangkan dari Eropa.Lewat tangan Francis, chef cokelat asal Prancis, L’atelier bisa secara konsisten menghadirkan citarasa cokelat yang berkiblat ke Prancis, salah satu negara Eropa di mana masyarakatnya mengapresiasi cokelat berkualitas tinggi sebagai bagian dari gaya hidup mereka.
Ketersediaan bahan-bahan impor itu acap terganggu lantaran proses impor terkadang memakan waktu lama. “Pernah kami dibuat panik karena beberapa cokelat
premium kami tertahan di pelabuhan selama beberapa bulan,sehingga persediaan kami kosong sama sekali,” ungkap Diana. Beberapa item produk, seperti sugar free dan organic chocolate, beberapa kali menghilang dari ruang display ‘Latelier gara-gara tersendatnya pasokan bahan.Tapi daripada mengganti dengan bahan lain dengan risiko terjadi perubahan pada kualitas produknya, L’atelier memilih meminta maaf kepada pelanggan atas kekosongan persediaan itu.Memilih Equipment dari Eropa
Sejarah cokelat di dunia bergulir dari Amerika Latin, tapi modernisasi dalam pengolahan biji kakao menjadi produk-produk cokelat berkualitas tinggi digerakkan dari bergerak di Eropa. Menurut Diana, kualitas citarasa produk cokelat dari Eropa tercipta antara lain berkat dukungan peralatan modern yang dikembangkan di kawasan itu. Itulah mengapa L’atelier mendatangkan equipment dari Eropa untuk lebih menjamin kualitas produk-produknya.
“Jika cokelat diolah dengan equipment yang benar, maka hasilnya pun akan jauh lebih baik dan efisien,” ungkap Diana. “Jika menggunakan equipment yang seadanya, selain hasilnya tidak bagus, efisiensi waktu juga menjadi lama.”
Demi menjaga konsistensi kualitas semua produknya, Diana dan Francis amat memperhatikan kehigienisan dan profesionalisme dalam proses produksi di L’atelier. Termasuk dengan mengawasi cara kerja karyawan, melakukan maintenance dengan benar-benar terhadap seluruh equipment-nya, sampai mengontrol proses pendistribusiannya. “Karena cokelat akan memiliki citarasa premium jika diolah dengan cara yang baik dan benar,” timpal Francis.
Setelah urusan kualitas produk, soal berikutnya adalah bagaimana membawakan produk itu dengan cara yang berkualitas pula. Dalam hal ini, L’atelier membawakan cokelat dengan ungkapan klasik: “Pelanggan adalah raja.” Setiap tamu harus dilayani seramah dan sebaik mungkin.
Demi kemajuan L’atelier, Diana pun dengan hati terbuka menerima masukan dari para “raja.”
Pernah ada pelanggannya complain karena cokelat yang dibelinya meleleh setiba di rumah. Sebenarnya ini kejadian wajar karena cokelat couverture amat rentan terhadap panas. “Tapi, kami menangani complain dengan profesional,” ungkap Diana. L’atelier mengganti cokelat yang telah meleleh itu dengan yang baru—demi kepuasan pelanggannya.

Dari pengalaman ini, frontliners-nya acap memberi informasi kepada pelanggan tentang bagaimana menyimpan cokelat atau cake yang mengandung cokelat agar tak mudah meleleh.Diana dan Francis tampaknya menyadari, untuk sukses dalam bisnis cokelat dengan sasaran pelanggan kalangan menengah-atas, tak cukup dengan menghadirkan produk berkualitas premium. Pengelola juga perlu mengedukasi komunitas pelanggannya seputar produk cokelat yang mereka tawarkan.
Tak jarang mereka menemui pelanggan yang datang ke outletnya, untuk memberi serangkaian informasi yang perlu mereka ketahui tentang tentang cokelat. Termasuk soal cara mengidentifikasi cokelat berkualitas premium, bagaimana sebaiknya menangani dan mengonsumsi cokelat, sampai ihwal efek cokelat terhadap kesehatan.
“Cokelat dengan kualitas baik tidak akan membuat tubuh menjadi gemuk, gigi menjadi rusak, atau mengakibatkan munculnya jerawat di wajah,” tutur Diana, yang yang juga berprofesi sebagai dokter gigi.
Kalaupun produk cokelat dipandang sebagai salah satu faktor penyebab, itu bukan lantaran cokelatnya, tapi karena bahan-bahan tambahan, termasuk lemak tambahan dan gula dalam volume cukup besar untuk menjadikannya sangat manis dan memiliki beragam citarasa.
Semangat Diana dan Francis untuk mengedukasi pelanggan tentang cokelat, membuat kian banyak orang faham tentang jenis makanan yang satu ini. Kian banyak pula yang mengapresiasi produk-produk L’atelier.
Walhasil, L’atelier pun tumbuh dengan tak hanya memanfaatkan potensi pasar produk-produk cokelat. Lebih dari itu, ia mengembangkan komunitas konsumen yang memiliki apresiasi lebih baik terhadap cokelat, dan terhadap produk dari outlet ini.
Kini, L’atelier hadir dengan empat outlet di Jakarta, termasuk di Kemchicks Pacific Place FoodHall dan Plaza Indonesia, serta factory outlet di kawasan Meruya Selatan,