fbpx

IBA Fair 2018, Kiblat Industri Bakery Dunia Kembali Digelar Di Munich

JAKARTA – Pameran roti, aneka kue dan kembang gula terbesar di dunia, IBA 2018 akan kembali digelar di Munich, Jerman, 15-20 September 2018 mendatang. Pameran bakeri terbesar ini akan menampilkan perkembangan terbaru mulai dari bahan baku, teknologi produksi, optimalisasi proses produksi hingga penjualan bakery, confectionery dan snack.

Pameran yang pertama kali diselenggarakan pada tahun1949 oleh Federasi Roti Jerman dan dilaksanakan setiap 3 tahun sekali ini, merupakan perhelatan yang ditunggu-tunggu oleh para pelaku industri roti, permen, dan kue dari berbagai negara di berbagai belahan dunia.

"Tema IBA 2018 kali ini mengutamakan makanan yang sehat dan aman dalam setiap proses produksi maupun pengepakannya. Higienitas menjadi hal yang menonjol termasuk dalam produk kue dan juga kopi. Ini akan memainkan peran industri makanan dan minuman tahun 2018," ujar Dieter Dohr, CEO dan Presiden GHM Gesellschaft fur Hamdwerkmessen mbH, dalam konferensi pers yang digelar oleh Ekonid akhir Oktober lalu di Hotel Pulman Jakarta.

Dohr mengajak para asosiasi pembuat roti dan pelaku industri roti, kue dan permen di Indonesia untuk datang ke pameran IBA 2018 tahun depan. Menurutnya, IBA 2018 menjadi wadah terbaik untuk mendapatkan informasi mengenai bahan baku dan berbagai peralatan terbaru dengan teknologi tinggi yang sehat, aman, dan higinis bagi pelaku industri bakeri, aneka kue dan kembang gula yang akan ditampilkan Munich 2018 mendatang.

IBA digelar setiap 3 tahun sekali, perusahaan dan industri makanan dan minuman (mamin) membutuhkan dalam waktu sedikitnya 3 tahun untuk  menciptakan mesin dan teknologi baru dalam membuat bakery. Karenanya pameran ini sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku industri terkait.

Michael Wippler, Ketua Federasi Roti Jerman, menambahkan, ada 4 kecenderungan yang perlu diantisipasi para pelaku industri roti dan kue di Jerman. Yakni kecenderungan diet di kalangan warga Jerman, menjadi roti sebagai makanan sehat, mesin pembuatan roti yang hemat energi, menjadikan industri roti yang berdaya saing di tingkat regional maupun internasional.

"Pameran IBA 2018 juga akan diisi dengan berbagai demo dari sedikitnya 15 juara Master Baker Jerman, serta kejuaraan dunia lomba peracik pemanis aneka kue junior. Mereka akan memperebutkan Juara Dunia Junior UIBC," tambah Wippler.

Dia menambahkan, satu hari sebelum pameran, pihaknya akan mengadakan konferensi tingkat tinggi. Konferensi ini sangat penting untuk melihat apa yang akan terjadi serta trend 5-10 tahun mendatang dalam industri bakeri. Dengan mengunjungi IBA, Wippler meyakinkan dengan mengunjungi IBA, pengunjung bisa mendapatkan banyak penawaran yang bisa meningkatkan sesuai dengan bisnisnya. Dengan banyaknya produk produk yang ditawarkan bisa menjadi inspirasi bagi pengunjung untuk mengadopsi produk-produk yang bisa diaplikasikan sesuai dengan pelanggan mereka nantinya. Sebagai marketplace IBA juga menawarkan semua kebutuhan yang lengkap untuk bisnis bakery sehari-hari mulai dari bisnis rumahan hingga skala industry. Khusus untuk grup pengunjung internasional, IBA memiliki program untuk mengunjungi bakery-bakery di sekitar Munich serta belajar langsung bagaimana membuat pretzel dan cheesecake yang merupakan dua andalan produk bakery khas Jerman.

Anggota GAPMMI (Gabungan Perushaan Makanan dan Minunan Indonesia) Maulana. W. Jumantara, mengatakan pameran roti dan kue IBA 2018 sangat penting untuk dihadiri dan dikunjungi oleh pelaku industri roti dan kue Indonesia.

"Mengunjungi pameran  itu bukan hanya sekadar melihat produk yang ditampilkan, melainkan juga bisa dijadikan inspirasi mengenai tren produk dan bisnis roti dan kue ke depannya," ujar Maulana.

Menurutnya, pengetahuan tentang teknologi dan tren produk yang akan berkembang patut dikuasai oleh pengusaha Indonesia. Tujuannya agar jangan sampai investor asing menyerbu pasar Indonesia. Maulana mengemukakan, pertumbuhan industri roti dan kue di Indonesia masih relatif kecil dan tertinggal jauh dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, yaitu sekitar 10 persen. Ini terjadi lantaran masih rendahnya konsumsi roti dan kue oleh masyarakat Indonesia. "Produk roti dan aneka kue di Indonesia menduduki urutan ketiga sebagai sumber nutrisi. Urutan teratas adalah beras dan kedua, mie,” jelasnya. P&B