fbpx

Tuti Soenardi Menyelesaikan Tantangan Demi Tantangan

         Selalu bersuara lantang demi mensosialisasikan gerakan cinta produk pangan lokal. Itulah dedikasi yang ditunjukkan oleh seorang Tuti Soenardi terhadap perkembangan pangan lokal yang sampai saat ini masih kurang diminati oleh masyarakat Indonesia.

        Pada awal tahun 1950-an
Tuti Soenardi memilih melanjutkan kuliah di Akademi Pendidikan Nutritionist Bogor (sekarang POLTEKKES DepKes Jakarta II, Red.).Setelah tamat pada tahun 1959, dengan bimbingan Prof. Dr. Poerwosoedarmo (alm), Tuti mengawali karier sebagai asisten dosen di almamaternya. Pada saat ia menempuh pendidikan, ia tidak hanya diajarkan tentang ilmu gizi saja tetapi juga cara mengolah makanan,”Ternyata untuk menjadi seorang ahli gizi kita tidak hanya sekedar mempelajari ilmunya saja. Tetapi kita harus mengetahui bagaimana cara mengolah makanan yang baik dan benar supaya aman untuk dikonsumsi,” ujar Tuti. Karirnya makin menanjak setelah tahun 1961 ia diangkat menjadi dosen pada Akademi Pendidikan Nutritionist Bogor.

        Meniti karir sebagai ahli gizi di RSCM Jakarta sekaligus mengajar satu kali dalam seminggu ia jalani dengan sukahati. “Pada masa pendidikan diberikan pelajaran mengenai dedikasi menghadapi suatu tugas. Saya diangkat menjadi dosen, sekaligus memperoleh tugas di RSCM. Suatu tantangan buat saya untuk dapat menjalankan dengan sebaik-baiknya. Menyusun menu untuk 10.000 porsi makanan dengan kebutuhan berbeda-beda menjadi sesuatu hal tak terlupakan bagi saya,” kisah Tuti kepada Pastry&Bakery.

Selepas dari RSCM, Tuti menjalankan tugas baru di RS Darmo Surabaya. “Kalau di RSCM setiap hari bisa mencapai ribuan orang, tapi RS Darmo hanya sekitar 100 orang. Saya sebagai ahli gizi bisa berkomunikasi dengan
orang-orang di sana dan mengetahui keinginan dari pasien,” kenang Tuti. Tak ingin hanya menjalankan tugas mengatur kebutuhan gizi di rumah sakit ini, Tuti juga berusaha memberikan sentuhan personal kepada pasienpasien, “Kalau ada pasien yang berulang tahun, dengan menu yang sama tapi saya sajikan secara berbeda. Sang pasien yang sedang berulang tahun menjadi sangat senang dan hal kecil seperti itu bisa meningkatkan psikologis agar cepat sembuh,” ujar wanita yang lahir pada 18 Oktober 1934.

         Karir Tuti RS Darmo Surabaya hanya bertahan setahun, karena Tuti disunting oleh Kolonel (Laut) R.D. Soenardi. Karena tuntutan harus mengikuti tugas sang suami, Tuti terpaksa melepaskan pekerjaannya. “Tetapi saya tidak berhenti sampai disitu, saya terus ingin berkembang. Cara mengembangkan diri dan potensi dengan cara membeli buku-buku untuk menambah ilmu pengetahuan supaya tetapup to date. Karena saya memiliki ketertarikan terhadap dunia kuliner, maka banyak media yang tertarik untuk meliput saya. Jadi ini merupakan tantangan bagi saya untuk bisa menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan. Saya banyak belajar dari buku dan kemudian mengembangkannya sesuai dengan masyarakat Indonesia,” jelas Tuti. Tetapi ada satu hal yang sangat menyita perhatian Tuti, yaitu nasib pangan lokal yang masih jalan di tempat. Dari sini, Tuti mulai melakukan sosialisasi gerakan cinta pangan lokal kepada masyarakat,”Saya ingin pangan lokal bisa menjadi tuan rumah dinegeri sendiri, dengan cara memaksimalkan pemanfaatannya,” sambung ibu dari empat anak ini.

Cinta Pangan Lokal

         Memperkenalkan suatu produk yang sama sekali baru bagi masyarakat awam memang sangat sulit. Inilah yang dialami oleh Tuti Soenardi dalam memperkenalkan produk tepung inovatif sebagai pengganti beras dan tepung terigu,”Kebanyakan dari mereka masih mencintai tepung terigu sebagai bahan pokok untuk membuat panganan. Mereka masih belum dapat menerima jika tepung singkong atau cassava bisa juga digunakan untuk itu,” ungkap Tuti. Namun kesulitan ini tak mengehentikan langkahnya untuk terus mengembangkan pangan lokal di tengah masyarakat. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya yang melimpah, hanya saja kita belum bisa memanfaatkannya dengan baik,”Jangan sampai negara lain yang melihat potensi ini dan mengembangkannya, ini akan merugikan bagi kita apalagi bagi masyarakat kalangan bawah,” jelasnya.

         Selalu menyuarakan gerakan cinta pangan lokal bukan tanpa maksud, sebab Tuti Soenardi memiliki misi yaitu ingin mengembangkan pangan lokal menjadi salah satu aset Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Dengan giat mengolah serta mengkonsumsi pangan lokal, maka kita tidak akan ketergantungan lagi dengan tepung terigu yang kebanyakan masih di import dari luarnegeri. Selain memaksimalkan pemanfaatan pangan lokal, hal ini juga turut membantu perekonomian terutama bagi para petani yang merupakan sumber terpenting dalam menghasilkan bahan-bahan kebutuhan lokal. Tak hanya itu saja, pangan lokal juga sangat baik untuk kesehatan karena tidak mengandung pengawet sama sekali dan lebih tahan lama dibandingkan tepung terigu, karena tepung ini terbuat dari bahan alami seperti umbi-umbian dan jagung.“Karena saya hanya mampu dalam gizi dan kuliner maka saya akan mengembangkan lewat itu. Gizi kuliner merupakan salah satu investasi kesehatan, maka itu kita harus mulai menerapkannya sejak dini untuk di masa yang akan datang,” tukas Tuti.

Tantangan Demi Tantangan

         Sulitnya mensosialisasikan dan membudayakan mengkonsumsi pangan lokal, membuat Tuti memilih strategi tersendiri.“Saya memang punya strategi khusus untuk membuat orang tidak lari saat mendengar bahwa produk yang kita terbuat dari tepung singkong, biasanya kita memodifikasi produk sedemikian rupa sehingga rasanya pun sama seperti produk yang terbuat dari tepung terigu,” ungkapnya sembari tersenyum. Ia selalu berusaha untuk mengkombinasikan pangan lokal dengan potensi laut, karena menurutnya hasil laut kan selalu disukai oleh masyarakat,”Biasanya kita membuat mie yang terbuat dari tepung singkong dan dikombinasikan dengan udang, cumi, dan sebagainya. Rasanya ternyata tidak kalah enak dengan mie yang terbuat dari tepung terigu,” jelasnya.

         Dalam pengolahannya ternyata penggunaan tepung alternatif harus tetap diawasi, karena masih banyak masyarakat yang masih belum mengetahui secara pasti mengenai standarisasi pemakaian tepung alternatif itu sendiri. Seperti misalnya untuk pembuatan tepung singkong, ternyata harus menggunakan singkong pilihan yang dapat dikonsumsi untuk pangan dan telah ditetapkan oleh pemerintah,”Informasi mengenai standarisasi penggunaan tepung alternatif harus mendapatkan pengawasan dari pemerintah, karena kalau tidak banyak masyarakat yang asal saja mempergunakan singkong padahal sebenarnya bahan tesebut tidak cocok diolah sebagai bahan pangan,” ujar Tuti. Ia mengharapkan pangan lokal harus lebih berkembang dan lebih dikenal masyarakat. Agar nantinya jika bahan pokok mengalami kenaikan harga, masyarakat kita tidak kesulitan untuk mencari produk alternatif sebagai penggantinya. P&B/Mega Murti/Rika Eridani,