fbpx

HARYANTO MAKMOER Tak Pernah Pelit Ilmu

Baker kondang kelahiran Surabaya yang rajin mengasah ilmu di mancanegara ini tak pernah bermimpi bisa keluar kota bahkan keliling dunia. Tapi berkat ketekunannya, ia bisa mencapai posisi seperti saat ini. Pastry&Bakery mendapatkan kehormatan untuk bisa berbincang-bincang di sela-sela kesibukannya yang sangat padat.

Dialah Haryanto Makmoer, seorang baker, Technical Service Manager PT. Sinar Meadow International Indonesia, dan pengajar berbagai kursus sekaligus konsultan untuk bakery-bakery.

Awalnya, menjadi seorang baker bukanlah cita-cita seorang Haryanto. “Saya bermimpi untuk bepergian ke luar kota saja tidak pernah. Apalagi bisa ke luar negeri. Sekarang saya bisa bepergian ke pelosok nusantara, bahkan bisa ke luar negeri ,” kenangnya. Sejak kecil ia memang sudah menyenangi kegiatan keterampilan memasak yang sering dilakukannya bersama sang ibu saat masih remaja di kota Surabaya. “Sama sekali tidak pernah kepikiran melanjutkan pendidikan ke bidang pariwisata bahkan ke arah F&B. Semuanya mengalir begitu saja. Saya cuma kepikiran dengan kata-kata seorang kakak sepupu yang bercerita bahwa seorang lulusan SMA di Jakarta hanya jadi tukang sapu saja,” ujarnya sambil tersenyum. Tak ingin menjadi sekadar lulusan SMA, Haryanto memutuskan hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannnya. Pilihannya hanya tertuju kepada Akademi Pariwisata Trisakti (sekarang dikenal sebagai Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Red.).

Sejalan dengan waktu, Haryanto menjadi jatuh cinta dengan ilmu yang ia pelajari, “Saat teman-teman lain pulang dan gaul, saya malah memilih membantu dosen untuk mempersiapkan bahan-bahan untuk praktek keesokkan hari,” ujar pria penyuka makanan Korea dan Jepang ini. Namun ketekunannya membawa hasil, setelah lulus ia pun melamar menjadi asisten dosen. Hingga akhirnya sang dosen, Sisca Soewitomo menawarkan pekerjaan lain yang yang dianggap lebih prestise.

Berani meninggalkan comfort zone, Haryanto menjajal kemampuannya bergabung dengan LKI (Lembaga Kuliner Indonesia) dan berkenalan dengan Hiang Marahimin, Toeti Soenardi dan William Wongso. “Mereka inilah guru-guru saya. Berkat mereka saya bisa mengembangkan ilmu yang saya pelajari tak hanya sekadar menciptakan suatu produk, tapi juga belajar mempresentasikan produk agar lebih layak tampil dan menambah daya jual. Karena mereka, saya bisa jadi seperti sekarang,” terangnya.

Tetap Rendah Hati

Menjadi seorang baker dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, tak membuat Haryanto menjadi sombong, “Mencari lawan atau musuh itu jauh lebih mudah ketimbang mencari teman. Karena itu, saya berusaha untuk bersikap baik dengan sesama baker maupun kompetitor produk . Dengan berteman dengan semua kalangan akan membuat kita menjadi ‘kaya’, karena akan bisa sharing pengetahuan dan pengalaman,” jelas Haryanto.

Pekerjaan sehari-harinya sebagai technical service manager di sebuah perusahaan fat and oil, mengharuskannya untuk selalu siap melakukan uji coba produk hingga menjadi sebuah karya pastry, cake maupun produk pangan lainnya yang berhubungan dengan bahan-bahan yang diproduksi oleh perusahaan tempatnya bekerja. Di waktu lain, Haryanto juga harus berhubungan dengan berbagai bakery yang menginginkan konsultasi atas penggunaan produk, bahkan kadang konsultasi berlanjut ke ide-ide jualan sebuah bakery. “Saya tidak pelit memberikan berbagai tips maupun ide-ide pada saat melakukan uji coba produk kepada bakery-bakery. Karena kalau kita memberikan yang terbaik, rejeki kita akan dipermudah,” ucapnya sambil tersenyum.

Selain disibukkan dengan tugas sehari-harinya, pria yang berulang tahun tiap 23 Maret ini juga sering berkeliling Indonesia bahkan keluar negeri untuk melakukan demo-demo produk atau memberikan berbagai kursus bagi kalangan profesional, industri maupun ibu-ibu rumah tangga. “Kursus itu seperti bagi-bagi ilmu, kalau memberikan pengetahuan kepada orang jangan tanggung-tanggung,” tegas Haryanto. Tambahnya, “ Ada seorang teman yang pernah menegur, kenapa kalau saya sedang demo atau mengajar, saya banyak memberikan tips. Menurut saya hal tersebut sangat wajar. Para peserta demo dan kursus sudah membayar mahal, maka saya punya kewajiban agar memberikan ilmu-ilmu yang akan menambah pengetahuan dari para peserta. Jangan sepulang kursus lantas tidak bisa praktek apa-apa. Buat apa mereka belajar kalau tidak bisa dipraktekkan?”

Asah Ilmu


Walaupun sudah belasan tahun malang melintang di dunia pengajaran, menurut pria yang masih betah melajang ini merasa kadang-kadang merasa kurang percaya diri. “Kadang-kadang saya merasa belum siap mengajar atau merasa persiapan yang saya lakukan kurang maksimal,” akunya. Kalau sudah terjebak dengan masalah kurang percaya diri, Haryanto berdoa di dalam hati, “Doanya simpel aja kok. Intinya memohon kepada Tuhan supaya diberikan kelancaran agar demo yang akan saya lakukan berguna untuk orang lain, menyenangkan orang lain, dan ilmunya bisa dipergunakan sesuai yag diinginkan oleh peserta demo.”

Haryanto bercita-cita, suatu saat baker atau chef itu menjadi pekerjaan pilihan. Bukan sekadar pekerjaan seadanya. “Baker atau chef juga memiliki tanggung jawab yang besar, harus bisa memberikan informasi yang benar. Pekerjaan ini juga pakai hati, dalam menjalankan harus tersenyum tulus. Karena kalau hati dan mulut kita tersenyum, otomatis roti yang kita buat juga akan tersenyum manis,” ujarnya setengah berkelakar. “Kalau sudah berkomitmen dengan pekerjaan, terutama dalam bidang pastry dan bakery, sebaiknya jangan setengah-setengah. Karena hasil pekerjaan kita juga terlihat kurang total. Jangan mudah melihat hijaunya rumput tetangga, karena lihat gaji di tempat lain naik, lalu ikut-ikutan pindah agar gaji bisa naik. Tapi kita harus melihat bagaimana kita bisa mensupport perusahaan atau bisnis tempat kita bekerja. Kalau kita bekerja dengan sungguh-sungguh, hasil karya kita juga mencerminkan kesungguhan hati,” pesan Haryanto.

Untuk membuat ‘orang dapur’ tidak dipandang sebelah mata, sebagai orang yang bekerja di dapur juga harus bisa menunjukkan kelasnya. “Ibaratnya seperti berlian, kalau sudah diasah dengan baik jangan diperlakukan sembarangan, tidak digosok lagi atau dibiarkan kotor tidak mengilap lagi. Bagaimana kita menjaga berlian itu tetap berkilau, jangan hanya disimpan di tempat yang kotor, tidak terpelihara, Tapi jika berlian tadi diperlakukan dengan baik, kilaunya akan tetap terpendar. Sama halnya dengan ilmu yang kita miliki. Dengan ilmu yang kita kuasai, tidak lantas puas begitu saja, harus terus dikembangkan,” lanjutnya. “Yang penting, sebagai seorang baker maupun chef jangan pernah berhenti belajar. Karena dengan belajar kita menyerap banyak pengetahuan, baik ilmu hidup maupun ilmu untuk menunjang profesi kita agar tetap bisa memberikan yang terbaik bagi sesama,” ujar Haryanto yang masih sering mengikuti berbagai training di luar negeri untuk mengembangkan ilmu dan trend terbaru dalam bidang baking.

Pastry&Bakery@Rika Eridani, foto-foto : Halasan Sihombing