fbpx

Interior outlet Dapur Cokelat

Dengan konsep dapur, agar pelanggan merasa nyaman seperti di dapur rumah sendiri sibuk membuat sendiri es kue—di luar jam sekolah dan kesibukannya membantu ibu membuat kue tradisional Makasar. Gadis itupun berjalan ke warung-warung di sekitar rumahnya, menitipkan es kue itu untuk dijual. “Keuntungannya lumayan untuk tambah-tambah uang jajan,” Eyie mengisahkan pengalaman pertamanya berwirusaha dalam bidang kuliner. Bagaimana orangtuanya mengajarkan kemandirian tampaknya berpengaruh kuat untuk pembentukan semangat kewirausahaan dalam diri Eyie. Walaupun hidup dalam keluarga yang berkecukupan, Eyie dan kakak-adiknya tak lantas bisa dengan mudah mendapatkan segala sesuatu yang mereka minta kepada Ibu dan Ayahnya. “Ini yang mendorong saya mendapatkan uang sendiri, antara lain ya dengan berjualan es kue yang saya ceritakan tadi,” ujar Eyie, sembari tersenyum bangga mengenang masa lalunya.Lulus dari SMIP, minat Eyie dalam bisnis kuliner kian mengental. Ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, dan memilih jurusan pastry di perguruan tinggi yang lebih dikenal dengan nama NHI itu. Keakrabannya dengan cokelat berawal dari pelajaran yang diperolehnya mengenai bahan makanan yang satu ini pada semester kedua di STP. Eyie begitu tekun menyimak pelajaran demi pelajaran seputar teknik mengolah cokelat untuk menghasilkan berbagai jenis makanan dan minuman. Karena selain menyukai cokelat, Eyie beranggapan bahwa tenyata membuat produk makanan berbahan cokelat tidak sesulit yang ia bayangkan sebelumnya. Sejak itulah Eyie merasakan gairah yang lambat-laun kian menggelora untuk berbisnis dengan cokelat.Sementara itu, semangat kemandirian dan kerja keras masih terus ditanamkan kedua orangtua Eyie hingga dewasa. “Aku masih ingat sekali, saat itu handphone-ku masih Nokia Banana. Waktu aku minta ganti handphone baru, ayahku malah memberiku modal Rp 500 ribu untuk jualan cokelat.”Dengan modal itu Eyie mulai membuat beberapa macam pralin, yang ia titipkan pada dua kakaknya untuk dijual ke teman-teman di perusahaan tempat mereka bekerja. Walhasil, Eyie bisa mengembalikan modal kepada ayahnya dan memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 250 ribu. Dengan uang hasil jerih payahnya itu, Eyie membeli cetakan cokelat dan bahan-bahan untuk melanjutkan bisnisnya.Selama kurang lebih lima tahun Eyie melayani pesanan-pesanan cokelat dari para pelanggannya. Volume pesanan yang melonjak menjelang even spesial, seperti hari Valentine, Lebaran, Natal dan Tahun Baru, membuat ia kewalahan. Padahal pada masa itu Eyie juga bekerja di bagian redaksi sebuah majalah kuliner di Jakarta, sambil kuliah ekstensi Program Studi Agribisnis di Institut Pertanian Bogor. Sampai-sampai ia hanya sempat tidur 1-2 jam sehari karena kesibukannya melayani pesanan. “Pagi aku bekerja di redaksi sebuah majalah kuliner, sore kuliah di Bogor, malam sampai pagi aku membuat pesanan cokelat. Seperti itulah kira-kira perjuanganku waktu itu,” kenang Eyie yang dikenal sebagai sosok yang enerjik.Ia menjalaninya dengan penuh semangat dan dedikasi, tanpa menunggu semua sumberdaya yang ia butuhkan untuk menunjang bisnisnya tersedia. “Dulu aku masih pakai mobil VW Kodok tanpa AC untuk mengirim pesanan. Lucunya, dalam perjalanan mengantar pesanan, kadang-kadang cokelatnya sudah lumer duluan. Aku cari solusinya, pasang kipas angin yang aku sorotkan ke arah cokelat-cokelat itu agar tidak lumer, walaupun tidak menjamin cokelatnya tidak akan lembek dan lengket,” ujarnya. Pengalaman menghadapi tantangan dan keterbatasan sumberdaya membuat Eyie makin ulet—untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam pekerjaan maupun bisnisnya. Dan inilah salah satu sumber energi mentalnya untuk menciptakan tantangan yang lebih besar: membuka Dapur Cokelat! Fokus!Eyie berbisnis di “ladang subur.” Sebab cokelat digemari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai dewasa, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Tapi dengan banyaknya kompetitor di bisnis ini, Eyie, dengan dukungan Okky Dewanto, pria yang kemudian menjadi suaminya, memutar otak untuk menghadirkan outlet cokelat yang lain dari yang lain, demi menarik perhatian calon pelanggannya. Maka tercetuslah konsep Dapur Cokelat: outlet cokelat dengan suasana mirip dapur. Bila pelanggan masuk outlet ini, mereka akan melihat kitchen set lengkap dengan kompornya. “Kami ingin pelanggan merasa berada tempat yang familiar bagi mereka, yaitu dapur, seperti di rumah sendiri,” jelas Eyie.Namun dengan menawarkan sesuatu yang berbeda saja, belum langsung memikat banyak orang, dan belum tentu pula membuat bisnisnya tumbuh. Bisnis ini, sebagaimana bisnis manapun, memerlukan energi untuk tumbuh. Di Dapur Cokelat, energi itu bersumber dari Eyie. Perempuan energik, ulet, dan pekerja keras ini fokus pada pertumbuhan bisnisnya. Oleh karena itu, ia dengan gigih mengatasi berbagai hambatan untuk tumbuh. Termasuk masalah yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan. Saat Eyie mendengar keluhan pelanggan bahwa kuantitas cokelat dalam cake buatan Dapur Cokelat berkurang dibanding biasanya, Eyie langsung turun ke dapur produksi dan mengeceknya. “Kepuasaan pelanggan harus menjadi bagian penting dari fokus kita. Bila gagal mengelola kepuasaan pelanggan, mereka akan meninggalkan kita dan membawa kita pada kemunduran.” Orientasi kepada pelanggan pula yang mendorongnya menggerakkan semangat berkreasi dengan tampilan dan citarasa pralin maupun cake di Dapur Cokelat. Agar pelanggan terpuaskan dengan tampilan dan citarasa itu. Namun, Eyie mengingatkan kita, “Jangan cuma memikirkan kepuasaan pelanggan, tapi pikirkan juga kepuasaan karyawan!” Agar mereka punya cukup motivasi untuk memberi kontribusi optimal bagi kemajuan usaha. Di Dapur Cokelat, ia menempatkan diri sebagai pemimpin yang terbuka, yang membuka peluang bagi karyawan mengemukakan ide maupun membicarakan berbagai masalah dalam pekerjaan mereka. “Aku sudah pernah bekerja di berbagai tempat dengan kenyamanan berbeda, jadi sebagai pemimpin perusahaan ini aku selalu berusaha terbuka dalam hal apapun kepada karyawanku. Baik itu soal keuntungan, keluhan, dan lainnya. Dapur Cokelat berhasil bukan karena aku pribadi, tapi lebih kepada manajemen yang solid dan mau bekerja keras.