Membuka Dapur Cokelat Pengalaman yang Menguatkan
Ermey Trisniarty—yang biasa disapa Eyie—merasakan pengalaman getir tak lama setelah ia meluncurkan Dapur Cokelat. Bayangkan, ia menyiapkan pembukaan outlet pertamanya dengan penuh semangat karena optimis bakal laris-manis. Maklum, dalam lima tahun sebelumnya ia melayani pesanan pralin dan aneka cake berbahan cokelat, dengan cukup banyak pelanggan yang diyakininya bakal menjadi pelanggan pula di outletnya. Tapi yang terjadi, dalam dua bulan pertama Dapur Cokelat sepi pengunjung. Untunglah, situasi ini tak mengempiskan semangatnya. Ia mencari apa yang salah dari konsep usahanya,atau apa yang realisasinya tak sesuai
konsep. Sampai ia menyadari bahwa kalau Anda membuka outlet cokelat,Anda perlu lebih dari sekadar menunggu
pembeli datang. Anda perlu berpromosi—memperkenalkan outlet Anda ke lebih banyak orang dan bahkan “mengundang”mereka datang ke outlet Anda.Langkah promosi pertamanya:mengirim brosur ke sekitar 1.000 nama
di Jakarta. Brosurnya relatif sederhana—berupa fotokopian dari selembar kertas—berisi informasi bahwa Dapur Cokelat telah dibuka dan menawarkan program gratis icip-icip” selama tiga bulan.Efeknya, banyak orang yang dikirimi brosur datang. “Biarpun sebagian di antaranya datang cuma untuk menikmati ‘icip-icip,’ tapi paling tidak ini
menandakan bahwa makin banyak orang tahu di sini ada Dapur Cokelat,” ungkap Eyie saat ditemui Pastry & Bakery di outlet pertamanya di Jl. KH. Ahmad Dahlan,Jakarta Selatan, awal April lalu.Sejak itu ada tren pertumbuhan jumlah
pengunjung dan volume penjualan di Dapur Cokelat. Apalagi setelah sebuah suratkabar nasional memuat tulisan
tentang Dapur Cokelat, outlet ini larismanis.Saking larisnya, pernah Eyie terpaksa menutup outletnya sehari sampai
tiga kali untuk memenuhi kebutuhan stoknya.Kini, Dapur Cokelat telah membuka lima outlet dan menjadi salah satu brand outlet cokelat terkemuka di Jakarta. Dari cuma segelintir pegawai dengan outlet
pertamanya, sekarang bisnis ini sudah melibatkan sekitar 100 pegawai. Jumlah outlet itu bakal bertambah
dalam waktu dekat ini, karena Dapur Cokelat tengah merencanakan pembukaan outlet baru di luar Jakarta.
“Cukup banyak pelanggan dari luar Jakarta yang sering datang ke tempat kami. Ini salah satu indikasi bahwa kami
punya peluang untuk tumbuh dengan membuka outlet di kota-kota besar lainnya di Indonesia,” tukas Eyie, tentang
alasannya memperluas jaringan outlet Dapur Cokelat.Modal Rp 500 Ribu Dapur Cokelat lahir pada tahun 2001,tapi embrionya telah ada bertahun-tahun sebelumnya. Embrio ini bisa kita runut dari perjalanan hidup Eyie.
Perempuan kelahiran Jakarta ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, dalam keluarga yang berasal dari Makasar.Di keluarga ini, sang ibu, Hj. Darniati,punya memotori usaha rumahan yang memproduksi kue tradisional Makasar.“Ibuku lihai membuat kue-kue tradisional Makasar. Pelanggannya lumayan banyakwalaupun hanya bisnis rumahan,” ujar Eyie yang kini memiliki dua anak laki-laki.Eyie suka membantu ibunya membuat kue. Dan meski semua anak di keluarga ini sejak kecil akrab dengan kesibukan membuat kue, minat Eyie dalam bisnis
kuliner paling kuat di antara mereka. Minat ini melatarbelakangi pilihan Eyie untuk belajar di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP).Bayangkan, seoranggadis remaja,yang masih dibangku SD,
konsep. Sampai ia menyadari bahwa kalau Anda membuka outlet cokelat,Anda perlu lebih dari sekadar menunggu
pembeli datang. Anda perlu berpromosi—memperkenalkan outlet Anda ke lebih banyak orang dan bahkan “mengundang”mereka datang ke outlet Anda.Langkah promosi pertamanya:mengirim brosur ke sekitar 1.000 nama
di Jakarta. Brosurnya relatif sederhana—berupa fotokopian dari selembar kertas—berisi informasi bahwa Dapur Cokelat telah dibuka dan menawarkan program gratis icip-icip” selama tiga bulan.Efeknya, banyak orang yang dikirimi brosur datang. “Biarpun sebagian di antaranya datang cuma untuk menikmati ‘icip-icip,’ tapi paling tidak ini
menandakan bahwa makin banyak orang tahu di sini ada Dapur Cokelat,” ungkap Eyie saat ditemui Pastry & Bakery di outlet pertamanya di Jl. KH. Ahmad Dahlan,Jakarta Selatan, awal April lalu.Sejak itu ada tren pertumbuhan jumlah
pengunjung dan volume penjualan di Dapur Cokelat. Apalagi setelah sebuah suratkabar nasional memuat tulisan
tentang Dapur Cokelat, outlet ini larismanis.Saking larisnya, pernah Eyie terpaksa menutup outletnya sehari sampai
tiga kali untuk memenuhi kebutuhan stoknya.Kini, Dapur Cokelat telah membuka lima outlet dan menjadi salah satu brand outlet cokelat terkemuka di Jakarta. Dari cuma segelintir pegawai dengan outlet
pertamanya, sekarang bisnis ini sudah melibatkan sekitar 100 pegawai. Jumlah outlet itu bakal bertambahdalam waktu dekat ini, karena Dapur Cokelat tengah merencanakan pembukaan outlet baru di luar Jakarta.
“Cukup banyak pelanggan dari luar Jakarta yang sering datang ke tempat kami. Ini salah satu indikasi bahwa kami
punya peluang untuk tumbuh dengan membuka outlet di kota-kota besar lainnya di Indonesia,” tukas Eyie, tentang
alasannya memperluas jaringan outlet Dapur Cokelat.Modal Rp 500 Ribu Dapur Cokelat lahir pada tahun 2001,tapi embrionya telah ada bertahun-tahun sebelumnya. Embrio ini bisa kita runut dari perjalanan hidup Eyie.
Perempuan kelahiran Jakarta ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, dalam keluarga yang berasal dari Makasar.Di keluarga ini, sang ibu, Hj. Darniati,punya memotori usaha rumahan yang memproduksi kue tradisional Makasar.“Ibuku lihai membuat kue-kue tradisional Makasar. Pelanggannya lumayan banyakwalaupun hanya bisnis rumahan,” ujar Eyie yang kini memiliki dua anak laki-laki.Eyie suka membantu ibunya membuat kue. Dan meski semua anak di keluarga ini sejak kecil akrab dengan kesibukan membuat kue, minat Eyie dalam bisnis
kuliner paling kuat di antara mereka. Minat ini melatarbelakangi pilihan Eyie untuk belajar di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP).Bayangkan, seoranggadis remaja,yang masih dibangku SD,