fbpx

Inovasi Tiada Henti

Pada dekade 1980-an, konsumen bakery Indonesia cenderung menolak perubahan atas produk-produk yang dianggap sudah mapan. Ambil contoh, mereka menolak donat yang tidak bolong tengahnya. Atau, mereka mencibir toping cokelat yang tidak berwarna gelap. Tapi derasnya arus informasi terutama melalui media televisi sejak paruh kedua dasawarsa 1990-an, membuat publik Indonesia terbiasa menerima perubahan, bahkan belakangan cenderung menuntut “sesuatu
yang baru.”
Tren ekspektasi konsumen inipun dibaca oleh kalangan industri food service yang menggunakan cokelat sebagai daya tarikandalannya. Maka gelombang inovasi demi meraih costumer barudan mempertahankan customer loyality pun menjadi cerita yangmelekat pada dinamika industri ini.Dalam industri food service yang mengedepankan cokelat diIndonesia, peluang inovasi dan kreativitas terbuka pada berbagaiaspek—tak terbatas pada produk yang mereka tawarkan. Diantaranya, dalam penamaan outlet, konsep outlet, sampaipenamaan produk. Maka kita bisa mendapati outlet bernamaDeath With Chocolate; kita bisa menemukan outletdengan konsep open kitchen seperti DapurCokelat, atau yang mengusung konsep kafedengan open kitchen seperti Créole Chocolaterie Pâtisserie.Kita juga mendengar produk bernamaChocolate Devils dari The Harvest Patissier& Chocolatier. Sementara itu, gelombang inovasi dalam kreasiproduk terus bergulir pula.Pakar cokelat Barry Bahrudin mengingatkan, potensi pasarproduk-produk cokelat di Indonesia memang amat besar. Namun,
dari waktu ke waktu, makin banyak pelaku bisnis food service untuk yang berebut potensi pasar itu. Walhasil, inovasi demi merebut perhatian pasar dan mempertahankan customer loyalty
menjadi salah satu tantangan bagi pelaku bisnis ini utuk survive dan tumbuh.Barry mengingatkan, outlet yang baru tumbuh perlu menaruh perhatian lebih besar pada pemanfaatan peluang-peluang inovasi.
“Bila berhenti berinovasi, outlet yang sudah punya nama besar saja mungkin ditinggalkan pelanggannya, apalagi outlet yang belum cukup populer.”