Home arrow SPOTLIGHT arrow Toko Kue Bawean Bertahan Karena Cita Rasa
Cover Edisi Terbaru
Image
 

Image 

Image

Image

Image 

Image 

 

TIPS & ACCESSORIES
LIFESTYLE & LEISURE
PROPERTY & REFERENSI BISNIS
ARSITEKTUR & DESIGN
mediakit
News
menuutama
Newsflashes
FAQs
Subscribe
Unsubscribe



User Login





Lost Password?
No account yet? Register
Who's Online
We have 1 member online

Putri (CS-1)

Aini (CS-2)

Sefti (CS-3)

Ida (CS-4)

Leny (CS-5)

Rika E (Redaksi)

Image 
Image
 
Toko Kue Bawean Bertahan Karena Cita Rasa Print E-mail
Monday, 28 June 2010

ImageSebuah kisah toko kue yang mampu bertahan selama lebih dari enam puluh tahun, dijalankan oleh tiga generasi. Walaupun mengusung cita rasa masa lalu, tapi Toko Kue Bawean d/h Sweetheart masih tetap dipuja sepanjang masa sampai kapanpun, sesuai dengan keinginan sang pemilik.

Di jajaran cake shop di kota Bandung, nama Toko Kue Bawean tentunya sudah tidak asing lagi. Toko Kue Bawean yang dulunya bernama Sweetheart, pertama kali berdiri pada tahun 1946. Adalah Tedja Kusmana sebagai generasi pertama yang mendirikan toko kue Sweat Heart. Tepatnya tanggal 3 Juli 1946 Tedja Kusmana membuka outlet di Jl. Sumatera No 2-5, Bandung. Penamaan Sweetheart juga bukan sembarang pilih, karena memiliki arti yang dalam, jika memiliki kekasih maka Anda akan selalu mengejar sampai kemana pun sang kekasih pergi. Dengan nama Sweetheart, maka konsumen diharapkan akan terus mengejar Toko Kue Sweetheart sampai kemana pun dan kapan pun. Keinginan Tedja Kusmana menjadikan Toko Kue Bawean d/h Sweetheart menjadi raja di hati pelanggannya tak sia-sia. Sampai saat ini, Toko Kue Bawean masih terus ramai dikunjungi oleh pelanggan setia maupun penikmat kuliner yang datang karena rekomendasi mulut ke mulut.

Nougat Roll dan Chocolade Wafel adalah produk-produk andalan Sweetheart kala itu. Bolu gulung dengan bahan utama vanilla, vla dan rum ini menjadi produk legendaris Sweetheart yang tetap bertahan hingga kini. Pada generasi pertama, toko kue Sweetheart tidak memiliki banyak karyawan. Bapak enam anak ini mempekerjakan semua anaknya secara gotong royong ketika itu. Setiap anak memiliki bidang masing-masing untuk dikerjakan mulai dari produksi hingga packaging.

Pada tahun 1974, Toko Kue Sweetheart pindah ke tempat barunya yang berada di Jl. Bawean No. 4, Bandung. Lewat tangan Herdy Kusmana sebagai penerus Toko Bawean, tahun 1992 ia membuka cabang baru di Jl. L.L.R.E Martadinata No. 140, Bandung. Di tangan Herdy Kusmana, Toko Kue Bawean banyak mengalami perkembangan. Mulai dari jenis produk, manajemen, hingga pemasaran. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah berubah, yaitu tetap mempertahankan citarasa kue jaman dulu. Nougat Roll, Mocca Boomstam, Mocca Taart masih merupakan produk unggulan sejak generasi pertama yang terus di produksi walaupun harus mengganti beberapa merk bahan baku yang sudah tidak beredar lagi. Salah satu perubahan, pada tahun 1995, seiring dengan himbauan pemerintah untuk tidak mempergunakan bahasa asing sebagai nama usaha, maka Toko Kue Sweetheart berubah nama menjadi Toko Kue Bawean yang tidak lain adalah nama jalan di mana toko itu berada.

ImageImage

Menjaga Cita Rasa

Sejak generasi pertama, Toko Roti Bawean selalu menggunakan bahan baku kualitas pertama untuk produknya. Mulai dari tepung, cokelat, dan telur ayam kampung serta bahan-bahan lainnya. Usaha itu tidak lain untuk menjaga loyalitas konsumen. Bahkan hingga kini tradisi tersebut terus dilakukan. Bahkan untuk beberapa jenis bahan baku sengaja menggunakan produk luar negeri yang didatangkan melalui importir di Jakarta. “Kami mengusung prinsip mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas,” jelas Herdy. Lanjutnya, “Kami tak bisa menjaga pelanggan tetap loyal, karena makin banyak bakery yang menawarkan berbagai jenis cake atau kue-kue. Tapi kami sadar, Toko Roti Bawean memiliki ciri khas tersendiri berupa kualitas produk yang tak pernah berubah. Bahkan dengan penampilan cake yang tidak cantik, tapi ketidakindahan dari Toko Kue bawean menjadi ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh para pesaing Bawean.”

Usaha Herdy untuk tetap mempertahankan rasa dari produk-produk jaman dahulu tidaklah mudah. Sebut saja untuk cokelat, ketika supplier coklat langganannya sudah tidak beroperasi lagi, Herdy berusaha untuk mencari cokelat pengganti dengan kualitas dan rasa yang sama sampai ke luar negeri, namun hasilnya nihil. Dengan modal sisa cokelat dari suplier lama, Herdy pun memutuskan untuk menciptakan cokelat dengan kualitas dan rasa yang sama dengan cara meneliti cokelat tersebut di salah satu laboratorium cokelat ternama di Singapura. Akan tetapi hasilnya tidak bisa 100% sama. Sehingga Herdy terpaksa menggunakan bahan baku cokelat yang sedikit berbeda dari sebelumnya.

Produk Toko Kue Bawean memang terkenal dengan mempertahankan rasa khas masa lalu, tapi tidak demikian dengan mesin produksi yang ada di dapurnya. Ketika Pastry&Bakery berkunjung ke bagian dapur, deretan alat produksi seperti oven, mixer, dan freezer sudah menggunakan teknologi terbaru yang di import dari luar negeri. Sedangkan untuk karyawan, dari sekitar 60 orang karyawan yang dimiliki, sebagian besar karyawan telah puluhan tahun mengabdi di Toko Kue Bawean.

ImageImage

Inovasi Produk Premium

Setelah berpuluh tahun Herdy mengelola Toko Kue Bawean, Herdy mengangsurkan tongkat estafet kepada anaknya. Pada tahun 2002, Edwin L. Kusmana yang tidak lain adalah anak pertama Herdy, diberikan kewenangan untuk mengelola Toko Kue Bawean. Di tangan pria bergelar S2 ini, Toko Kue Bawean banyak mengalami perkembangan. Salah satunya dalam hal produk dan manajemen. Selain tetap mempertahankan produk lama, Edwin dan mulai memproduksi produk baru yang ditujukan untuk konsumen generasi sekarang. “Saya harus mulai dari bawah dulu untuk bisa pegang kendali di Toko Kue Bawean. Pak Herdy menginginkan saya bisa mempelajari situasi dan mengenal satu persatu pegawai yang bekerja untuk Bawean,” kenang Edwin. Lanjutnya, “Bahkan saya harus mau panggul terigu atau bekerja di ruang produksi.” Berkat kerja kerasnya, Toko Kue Bawean bisa tetap bertahan ditengah persaingan bakery-bakery di Bandung.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar konsumen Toko Kue Bawean adalah pelanggan lama yang juga telah turun temurun menjadi pelanggan setia. Namun hal tersebut tidak membatasi Edwin untuk berinovasi dengan produk barunya. Karena selain hidup di jaman yang berbeda, Toko Kue Bawean pun harus siap dengan perubahan jaman. Sehingga Edwin sejak setahun yang lalu meluncurkan produk premium seperti Opera, aneka cheesecake, Tutti Frutti Cookies, Choc Chip Cookies, hingga Macarons. Untuk produk premium ada satu hal yang diadopsi oleh Edwin dari generasi pertama pendiri Toko Kue Bawean yaitu tetap pempergunakan bahan baku nomor satu. “Penggunaan bahan baku terbaik menjadi ciri khas kami, maka tidak boleh ditinggalkan,: terang Edwin.

Lokasi cabang Bawean di Jl. L.L.R.E Martadinata yang sangat strategis di harapkan dapat merangkul konsumen baru. Hal tersebut juga yang memotivasi Edwin untuk melebarkan sayap dengan membuka resto. Berlokasi di lantai dua Toko Kue Bawean cabang Martadinata, Edwin menerapkan konsep yang elegan untuk Bawean Resto. Tampak dari luar resto ini terlihat sangat memukau. Namun anda tidak akan menyangka jika menu yang ditawarkan sangat ekonomis dari segi harga. Resto ini selain menyajikan menu main course seperti Chicken Cordon Bleu, Sweetheart Fish and Chips, Grilled Dori with Red Pepper and Rosemary, berbagai pilihan makanan Oriental, aneka pasta dan pizza hingga sandwich.

Prospek Cerah Tanpa Iklan

Berbicara mengenai srategi promosi, Edwin mengaku bahwa Toko Kue Bawean sampai saat ini masih mempergunakan prinsip tunggu bola. “Tidak ada rencana untuk mengiklan di media karena sebagian besar konsumen kami adalah konsumen dari generasi pertama,” papar Edwin. Satu-satunya media promosi Toko Kue Bawean adalah penampilan outlet, penggunaan bahan-bahan pilihan serta mempertahankan rasa dari produk-produk yang dijual. “Saya percaya dengan kekuatan rekomendasi dari mulut ke mulut. Untuk memperkenalkan produk baru, kami tak segan membagikan sampel kepada pelanggan bahkan memberikan diskon khusus, agar pelanggan mau mencicipi,” imbuhnya.

Untuk masa yang akan datang, Edwin tak hanya puas dengan outlet-outlet di Jl. Bawean atau Jl. L.L.R.E Martadinata saja. Ia percaya bahwa bisnis keluarga ini masih bisa dikembangkan lagi menjadi lebih baik. Walaupun masih mempertahankan resep-resep lama, dan bertahan tanpa mengiklan. Edwin optimis terhadap prospek yang bagus dimasa yang akan datang, sehingga muncul rencana untuk membuka cabang baru yang lebih besar dalam waktu dekat ini. Namun Edwin mengatakan, “Konsep dari resto baru ini nantinya murni memasarkan produk premium, untuk produk tradisional cukup di Jl. Bawean dan Jl. Martadinata saja.”

Pastry&Bakery/@Halasan Sihombing/Rika Eridani

Foto-foto : Halasan Sihombing

 
Image
Cake

Image    

Lezat Edsus Kue Kering
Image
Lezat Khusus
Image
Tabloid Lezat
 
Rubrikasi
ART&DECCO
BAKING SERVICE
BAKING TIPS
BAKERSPIRIT
BIZCHANCE
BIZMANAGEMENT
CREATIVERECIPES
CHEFDELIGHT
EXEBI&SHOW
EQUIPTECH
FLAVORTOSAVOUR
FEATURESFAT
FLOURPOWER
GLOBITREND
INBAKING
INGREDIENTS
INSPIRANOVA
MARKETACTIC
PACK&DISPLAY
RICHTASTE
SPOTLIGHT
TIPS&TRICK
VISITOUTLET
Advertisement
Visitors Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday100
mod_vvisit_counterYesterday454
mod_vvisit_counterThis week554
mod_vvisit_counterThis month20653
mod_vvisit_counterAll807899