fbpx

Mutiara Donut-Manfaatkan Jejaring

Pemilik Mutiara Donat, Eri Syafitri, meretas bakery ini lima tahun silam. Dilatari pengalamannya bekerja sebagai tenaga penjual donat, plus pemikiran positif bahwa tanpa punya gerai bakery sekalipun, ia bisa membangun usaha bakery yang memberi lapangan kerja bagi keluarganya dan orang lain. “Modal awalnya sekitar Rp 80 juta,” ujar Eri kepada Pastry & Bakery yang mengunjungi bakery donatnya
di Jl. Merpati Raya No. 9, Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang, Banten.
     Ia menggunakan uang simpanan keluarganya itu untuk menyewa bangunan rumah yang kemudian ia jadikan sebagai lokasi pabrik donatnya. Selain untuk membeli peralatan produksi, biaya produksi, biaya pegawai, serta sejumlah kotak plastik untuk penempatan donat di kantin sekolah-sekolah, toko-toko, dan warung-warung sampai radius beberapa kilometer dari sentra produksinya.
     Dalam hal penjualan, Eri memanfaatkan ejaring yang sudah ia kembangkan selama menjadi sales donat ke kantin-kantin sekolah di kawasan Ciputat. Juga dengan merekrut tenaga sales.
    Eri pun memanfaatkan jejaring untuk mendapatkan pesanan donat, untuk disajikan di acara-acara pertemuan seperti pengajian dan arisan ibu-ibu. Selain, menawarkannya ke sekolah-sekolah untuk bekal study tour siswanya. Sekarang, Mutiara Donut mendapatkan 2-3 pesanan per bulan. Dan jumlah donat untuk setiap pesanan bisa mencapai 40 lusin.

Jeli melihat peluang
     Menurutnya, setiap pelaku usaha bakery harus jeli dalam melihat peluang penjualan. Dalam konteks ini, ia menangkap fenomena bahwa banyak pekerja belum sempat sarapan di rumah dan mencari makanan untuk sarapan dalam perjalanan ke tempat kerja. Dari sini, Eri mengembangkan model penjualan melalui tenaga penjual di angkutan umum, terutama biskota dan kereta api. “Donut itu makanan yang nikmat dan praktis untuk dikonsumsi di mana saja, termasuk selama dalam perjalanan dengan angkutan ungkap Eri, tentang pertimbangannya mengembangkan model penjualan ini.
     “Untuk berhasil menjalankan bisnis donat tanpa outlet adalah jeli dalam melihat peluang-peluang penjualan,” tandasnya.

Produk alternatif
     Mutiara Donat juga memproduksi roti goreng, brownies, pisang molen, dan bolu, untuk menyediakan pilihan selain donat bagi pelangganya. Sekarang, dalam sehari bakery ini memproduksi sekitar 600 donat dan 400 produk lainnya. Angka tersebut belum termasuk pesanan dari sales ataupun untuk acara-acara tertentu.
     Ketika baru mulai berproduksi lima tahun silam, Mutiara Donat hanya mempekerjakan dua karyawan. Sekarang, jumlah karyawannya mencapai 18 orang.
     Menurut Eri, modal awalnya telah kembali dalam tempo tiga tahun. Dan sekarang, ia berencana memperluas pangsa pasar produknya dengan membuka kafe donat di daerah Jakarta Selatan. Target pelanggannya adalah kalangan mahasiswa. Oleh karena itu ia sedang mencari lokasi yang cocok, yakni di seputaran kompleks universitas. “Untuk segmen pelanggan dari kalangan mahasiswa, saya akan memproduksi donat yang kelasnya lebih tinggi—sesuai untuk kalangan high class.” P&B (YIN) | FOTO-FOTO: RICHARD