Cari Duit Lewat Media Sosial

     Bisnis makanan sepertinya masih menjadi salah satu lahan bisnis yang sangat menjanjikan di Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan industri makanan pada kuartal pertama 2013 mengalami kenaikan sebanyak 0,30% dari tahun 2012 lalu.

Tak heran jika bisnis makanan maupun minuman terus bertumbuhan di sekitar kita.

     Memulai bisnis berbasis makanan sebenarnya susah-susah gampang. Banyak yang memulai karena mampu mengolah resep dan disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak cukup dengan hanya memiliki resep andalan lantas kita membuka usaha kuliner. Pastry&Bakery tak pernah bosan mengingatkan kepada Anda pada saat membuka usaha kuliner, baik restoran, café, maupun bakery, harus membuat survey kecil kepada konsumen. Kesuksesan bisnis Anda ada di selera konsumen. Sebagai pengusaha harus jeli dan mengerti kebutuhan dan selera dari calon pembeli Anda. Selain menguasai selera pasar, Anda juga harus jeli memilih lokasi. Posisi lokasi juga menentukan kemungkinan meraup keuntungan dari bisnis kuliner.

     Jangan abaikan proses promosi. Anda perlu melakukan promosi untuk memperkenalkan produk kuliner andalan. Menyiapkan tester dari produk yang akan dijual adalah cara paling mudah mengenalkan produk kepada calon pelanggan. Bagi bisnis kuliner, strategi memberikan icip-icip adalah satu keuntungan sekaligus kerugian, karena calon pelanggan akan mudah terpikat dengan salah satu produk Anda dan segera membeli bahkan merekomendasikan kepada teman-teman atau kerabatnya. Kerugiannya jika si calon pelanggan tidak menyukai produk Anda, dengan mudahnya mereka akan mengatakan bahwa produk buatan Anda tidak enak. Memasang iklan dan membagikan selebaran juga salah satu cara memperkenalkan produk Anda kepada calon pelanggan. Agar Anda memperoleh perhatian dari calon pembeli, Anda juga harus mau memberikan iming-iming menarik berupa diskon melalui iklan tersebut. Promosi berupa iklan maupun diskon bisa disebarkan lewat media sosial yang sedang naik daun sebagai alat promosi jitu.

Jualan Via Media Sosial


   Memasuki tahun 2000-an, internet menjadi sebuah media baru bagi warga dunia. Melalui internet, kita bisa pergunakan sebagai alat komunikasi, hingga menjadi suatu wilayah baru dunia perdagangan. Barang-barang yang diperjualbelikan Bisnis makanan sepertinya masih menjadi salah satu lahan bisnis yang sangat menjanjikan di Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan industri makanan pada kuartal pertama 2013 mengalami kenaikan sebanyak 0,30% dari tahun 2012 lalu. Tak heran jika bisnis makanan maupun minuman terus bertumbuhan di sekitar kita. Cari Duit Lewat Media Sosial sangat tak terbatas. Bidang kuliner juga merambah penggunaan media internet sebagai tempat berjualan. Pastry&Bakery mencatat, milis NCC (Natural Cooking Club) yang didirikan pada tahun 2005 oleh sepasang suami-istri, Fatmah Bahalwan dan Wisnu Ali Martono adalah satu penggerak “bakul kuliner”. Memberdayakan ekonomi dari dapur sendiri, adalah salah satu misi dari milis yang sudah tembus 15.000 member (data Februari 2013). Cara berjualannya juga sederhana, buka lapak melalui media web log (blog) seperti Blogger, WordPress, hingga Multiply dan Kaskus.

     Melalui blog, pembeli dan penjual saling bertransaksi, pembayaran melalui transfer antar bank sudah bukan menjadi masalah. Prinsip jual beli sah dengan adanya pedagang dan pembeli, dan dilaksanakan transaksi dengan mata uang yang berlaku. Hingga era Facebook merambah internet, ajang media sosial yang awalnya untuk bertegur sapa dengan teman-teman, menjelma sebagai lokasi berjualan dan Facebook sendiri memberikan ruangan khusus bagi produsen yang ingin menggelar dagangannya. Menurut Rizal Wirawan pemilik Lizana Foodie, salah satu spesialis penyedia pie yang menjual produknya lewat Kaskus, dan berbagai media sosial lainnya, berjualan lewat Kaskus tak perlu mengeluarkan modal besar, “Cukup menyediakan berbagai macam foto-foto yang menarik dari produk yang kita tawarkan, pembeli akan datang sendiri,” jelas pria berkacamata ini. Belakangan situs microblogging bernama Twitter menjadi suatu cara baru berjualan. Promosi mejadi lebih mudah dengan adanya teknogi Blackberry dan berbagai smartphone dengan basis internet data. Orang-orang terbiasa berkomunikasi melalui koneksi internet, Twitter juga menjadi salah satu alat mudah berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Sadar akan fungsi sosial Twitter yang sedemikan kuat mendunia, banyak produsen melirik situs microblogging sebagai salah satu lokasi berjualan.

Lebih Dekat Lebih Efektif


     Pengguna media sosial Twitter berasal dari berbagai lapisan masyarakat dan rentang usia yang sangat beragam. Mengerti hal itu, banyak produsen dan pengusaha yang mulai melirik penggunaan media sosial untuk berpromosi. “Penjualan dengan ‘word of mouth’ yang berasal dari kepuasan para konsumen, di re-tweet dan dibaca oleh follower adalah kekuatan berjualan melalui media sosial,” terang Leonnie F Merinsca, pemilik dan pengelola Beyond Treats penyedia berbagai produk cake dan cookies bebas gluten. “Eksistensi brand di media sosial menjadi penting dikarenakan masyarakat kini lebih terkoneksi melalui dunia maya. Beragam rekomendasi yang muncul melalui sosial media dijadikan sebagai salah satu konsiderasi penting sebelum membuatkan keputusan dalam memilih sebuah produk ataupun layanan. Untuk itu sangat penting artinya membangun kredibilitas brand di dunia maya utamanya di media sosial yang sekaligus guna memperkuat loyalti terhadap brand. Modena juga melihat media sosial sebagai platform yang tepat sebagai salah satu kendaraan untuk lebih dekat dengan konsumen. Sifat media sosial yang memiliki gaya kasual lebih memanusiakan brand sehingga kami dapat melakukan pendekatan konsumen dengan lebih personal. Hal ini tentunya sekaligus dapat meminimalisir gap antara brand dengan konsumennya. Selain sebagai wadah bagi konsumen untuk saling berinteraksi satu sama lain serta bertukar informasi bermanfaat, melalui media sosial juga konsumen dapat lebih leluasa berinteraksi dengan kami bahkan menyuarakan diri dengan lebih ekspresif. Maka kami dapat menggunakan informasi yang didapat sebagai bagian dari upaya untuk lebih memahami konsumen. Lebih jauh lagi, dapat memanfaatkan informasi tersebut sebagai referensi bagi kami dalam menghadirkan ataupun meningkatkan layanan serta produk yang relatif lebih diterima oleh atau merupakan preferensi masyarakat,” jelas Desiana Latuconsina, Public Relations Dept. Head Modena Indonesia.

Pro dan Kontra


     Diakui berjualan maupun berpromosi melalui berbagai sosial media jauh lebih praktis. Bagi pembeli, tanpa meninggalkan rumah atau kantor, tetap bisa bertransaksi. Bagi pebisnis, bisa menjalin hubungan langsung dengan pelanggan walaupun tanpa tatap mata. Bagi perusahaan non jasa, melalui media sosial juga mempermudah menyapa pelanggan dan calon pelanggan, berbagi informasi mengenai produk, bahkan bisa menangani keluhan pelanggan. Dari banyaknya kemudahan yang didapat, salah satunya lebih dekat dengan pelanggan tanpa tatap muka, bahkan antar pelanggan bisa digalang menjadi komunitas, juga manfaat kepraktisan melakukan transaksi tanpa pertemuan, bisnis yang dijalankan lewat media sosial juga rentan terhadap praktek kejahatan internet. Order wan prestasi atau tagihan tidak lancar adalah salah satu resiko yang harus dihadapi. Jika Anda kurang aktif berkomunikasi dengan pelanggan atau teman-teman dalam jaringan akun media sosial yang dimiliki, maka dengan mudah produk Anda dilupakan oleh konsumen. Maka sangat diperlukan peran moderator yang khusus menanggani akunakun media sosial agar informasi produk tetap berkesinambungan. Keterbatasan ruang 160 karakter seperti microblogging Twitter membuat informasi yang dilempar kepada konsumen harus tepat, dan langsung mengenai sasaran terhadap produk sekaligus memberikan informasi bermutu kepada konsumen sehingga memiliki rasa keterikatan antara produk/merk dan konsumennya.

     Bagi perusahaan non jasa, kekurangan dari media sosial selain beberapa poin di atas, juga menyoroti tentang keluhan pelanggan, “Penyaringan yang minimal dimana media sosial juga kerap kali menjadi tempat untuk menumpahkan kekecewaan konsumen kepada suatu brand atas produk maupun layanan tanpa dapat difilter,” ungkap Desiana. Lanjutnya, “Sayangnya, media sosial memiliki masa tren yang tidak panjang. Terutama makin banyak bermunculan berbagai platform media sosial baru. Konsumen seringkali beralih mempergunakan media sosial baru, maka pihak produsen harus up to date mengerti pergerakan media-media sosial untuk bisa mengikuti keberadaan konsumen.