Patisserie Francois Menjaga Kualitas Pastry Dengan Resep Kuno

Saat mendengar Patisserie Francois yang terlintas dalam fikiran Anda adalah kue-kue khas Prancis yang terkenal enak dan menggugah selera. Hal ini memang terbukti, Patisserie Francois, tetap setia menggunakan metode kuno untuk menghasilkan kue-kue pastry khas dengan lipatan-lipatannya.

Patisserie Francois hadir sejak 1973, adalah Ine Lasmana yang mempunyai keturunan darah Perancis dan sempat belajar khusus mengenai kue-kue Perancis di Cannes, merintis Patisserie Francois saat dia pulang ke Jakarta. Pada masa-masa itu kue-kue Perancis buatannya belum popular. Untuk menyiasati agar bisnis tetap berjalan, Ine belajar membuat kue-kue tradisional khas Indonesia dari sang mertua. Hasilnya, kombinasi dan improvisasi kue-kue khas Perancis dan kue tradisionalnya pun mulai mendapat pesanan dari berbagai kalangan.

Karena susah untuk melafalkan Patisserie Francois, mereka dikenal dengan kue Perancis Pembangunan karena letaknya di jalan Pembangunan Jakarta Pusat. Kala itu produksi mereka hanya berskala rumahan dan hanya untuk melayani pesanan saja.

Rebranding

Sepulang menimba ilmu di Art Institute of Seattle, Amerika Serikat dan International College of Tourism&Hotel Management Sydney, Australia pada tahun 2000, Pascal Lasmana melakukan pembenahan pada bisnis kue yang dirintis sang bunda. Mulai dari melakukan kerjasama promosi dengan kartu kredit, termasuk membuat logo, meluncurkan website, hingga mengenalkan produk Patisserie Francois di mall-mall papan atas dengan konsep café. Tahun 2007 outlet pertama dibuka di Pacific Place mendapat perhatian yang cukup menggembirakan karena pelanggan setia mereka di daerah Jakarta Selatan dengan lebih mudah menjangkaunya.

Setelah mantap dengan konsep mengusung kue-kue petit fours sebagai andalannya, tahun lalu Pascal kembali membuka outlet di Plaza Indonesia dengan tempat yang lebih besar lengkap dengan sofa merah cozy yang ditata rapi di dekat eskalator Lobby Barat Plaza Indonesia tak ketinggalan dengan fasilitas Wi-Fi gratis.


Pertahankan Resep Kuno

Ciri khas homemade dengan resep kuno masih dipertahankan dalam pembuatan kue-kue Patisserie Francoise bahkan untuk tetap menjaga kualitas kuenya semua dilakukan secara manual untuk melipat kue-kue pastrynya.“Kita masih menggunakan dough sheeter dan melipat sendiri kue-kue pastry, itulah mengapa terkadang ada pelanggan yang menanyakan mengapa kuenya tidak sama persis. Ini yang akan kita coba terus perbaiki,” jelasnya.

Kesan homemade dan handmade memang hingga kini tetap dipertahankan Pascal. Untuk menjaga kualitas produknya sang bunda masih terlibat dan mengontrol produksi kue-kue Patisserie Francois dibantu 70 karyawan yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di sana. Dalam sehari produksi kue mereka mencapai 2000 – 3000 potong kue dengan 250 jenis kue. Sesuai dengan taglinenya Homemade Frozen Yoghurt, Petit Fours&Desserts selain kue-kue kecil atau dikenal dengan petit fours sebagai ciri khasnya Patisserie Francois juga menyajikan aneka cold dessert lengkap dengan paduan frozen yoghurt dan buah-buahan serta kue-kue tradisional seperti, lemper, risoles. Makanan berat seperti lasagna, spaghetti, macaroni schotel dan fettucini pun ada.

Meski terletak gerai Patisserie Francois di tengah mall untuk kelas menengah atas, harga yang dipatok untuk kue dan makanannya relatif terjangkau berkisar mulai Rp 3.000 untuk sepotong petit fours dan mulai dari Rp.30.000 per porsi untuk makanan utama.

Pria satu orang putra ini beranggapan ke depan bisnis pastry akan tetap cerah, memang butuh keberanian dan positioning yang harus berbeda dengan yang lain.

“Orang sekarang banyak yang bisa bikin kue, tapi jaman sekarang branding, pemasaran dan bagaimana cara menjualnya juga penting,” urainya.

Butuh Passion

Selain memenuhi produksi untuk di outlet-outlet, pria kelahiran Jakarta, 29 Januari 1976 ini juga menggarap pelanggan korporat salah satunya Bank Indonesia (BI). Bahkan untuk memberikan pelayan yang prima, setiap hari ia memproduksi 2000 potong berbagai jenis kue khusus untuk memenuhi kebutuhan di executive lounge di BI.

Saat ini Pascal tengah disibukkan mempersiapkan salah satu outlet barunya di Surabaya dan satu outlet lagi di Jakarta dengan konsep bistro. Saat ditanya apa yang membuatnya membuat konsep berbeda di setiap outlet baru, suami Sisilia Lasmana ini menjawab diplomatis, “Masih jarang orang menggarap konsep bistro, ini jadi semacam tantangan untuk saya. Kita berusaha memenuhi semua keinginan pelanggan, apa yang mereka mau mulai dari dessert, frozen yoghurt hingga makanan berat kita ada.”

Kunci sukses dalam bisnis makanan menurut pandangan Pascal adalah passion. “Selain meneruskan bisnis keluarga, saya memang punya passion di bidang ini,” jelas pria yang sesekali mengikuti kursus membuat kue ini dengan mantap.

Pastry&Bakery/@Novi Amaliyah/Rika Eridani