Bisnis Cita Rasa Roti dan Kue Inovasi atau Mati

Mungkin terdengar agak asing di telinga kita, tetapi hal ini yang membuat bisnis bakery tak pernah mati, bahkan sampai detik ini masih banyak orang-orang memiliki angan-angan untuk berbisnis di ranah foodservice yang konon hasilnya sangat menggiurkan.

Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjalankan bisnis berbasis makanan dan pelayanan. Diperlukan passion yang kuat untuk bisa membuat roda bisnis berputar, selain pelayanan, tampilan menarik dan tentu saja sajian yang memikat rasa. Setelah bisnis ini bergulir, sebagai pemilik dan pengusaha, kita dihadapkan dengan banyaknya persaingan di sana-sini dari berbagai pebisnis serupa.



Persaingan Usaha

Ketika kita membicarakan persaingan, tentunya banyak strategi yang dijabarkan. Salah satunya dengan memperbaiki pelayanan juga rasa dari produk yang ditawarkan kepada pembeli. Hal ini terjadi kepada Hendra, pemilik Toko Roti Venus, Bogor yang kondang dengan nama “Roti Unyil”. Hendra sempat merasa ragu dengan keputusannya mengubah bentuk roti yang normal berukuran setelapak tangan diubahnya menjadi berukuran seperempat dari ukuran biasa.

Keberanian berinovasi membuat Toko Roti Venus masih bisa bertahan hingga saat ini. Untuk mempertahankannya, pengelola Toko Roti Venus hanya tinggal menambah varian rasa roti unyil yang dijual. Inovasi ini terbukti cocok dengan market yang menemukan bahwa roti berukuran mungil, sangat merangsang untuk dibeli. Pembeli sudah bosan dengan roti berukuran besar. Tak heran roti kecil ini laku keras, sehingga tiap weekend atau liburan, pembeli harus mengantri untuk mendapatkannya.



Harus Bersikap

“Berpikir positif, kita kembalikan bahwa rejeki adalah pemberian Tuhan. Tetapi sebagai manusia adalah wajar jika ada rasa khawatir dengan aneka ragam kompetitor,” ucap Herdy Kusmana dari Toko Kue Bawean, Bandung. Terlena akan kejayaan masa lalu sempat juga menggoyahkan posisi Toko Kue Bawean sebagai salah satu bakery ternama di Bandung, “ Kami terlalu sombong, macam raksasa yang tertidur pulas, tidak peduli dengan para pesaing. Tahu-tahu, pesaing Toko Kue Bawean yang tadinya tidak diperhitungkan, mendadak sudah jadi besar. Jauh lebih besar dibandingkan Bawean,” imbuh Herdy.

Tidak ada kata terlambat, walaupun sudah dikejar oleh para pesaingnya, Toko Kue Bawean sedikit demi sedikit mulai bangun kembali. “Melihat toko-toko lain membuat molen, Bawean juga ikut. Brownies Kukus naik daun, Bawean ikut-ikut menjual produk serupa,” tambah Herdy. Lanjutnya lagi, “Namun Toko Roti Bawean tak sekadar ikut-ikut menambah varian produk. Kami berusaha menampilkan produk serupa namun dengan rasa lebih enak tentunya dan tetap mengusung ciri khas dari Toko Roti Bawean, yaitu pemilihan bahan baku yang berkualitas. Karena bahan baku nomer satu akan memberikan rasa yang lebih enak.”



Inovasi Bahan Lokal

Jika kita sudah berniat untuk bisa tampil sebagai pebisnis bakery yang mampu bersaing, jangan segan untuk berinovasi dengan berbagai bahan lokal yang terdapat di sekitar kita. “Selama masih ada telur ayam kampung, terutama untuk produk-produk Bawean varian yang old fashioned, kami masih akan mempergunakannya agar kualitas rasa tetap terjaga,” terang Herdy Kusmana.

Bahkan bakery sekelas BreadTalk juga berani menampilkan inovasi bahan dan rasa lokal untuk ditampilkan pada produk-produk signature-nya. BreadTalk beradaptasi dengan lidah masyarakat lokal yang menyukai rasa manis, pedas dan gurih melalui penggunaan abon sebagai topping pada roti manis. Tak pelak, sewaktu produk “Flosss” diluncurkan ke pasar pada tahun 2000, sambutan masyarakat Singapore sangat antusias. Sesampainya di Indonesia, BreadTalk menjadi buah bibir dan trendsetter modifikasi roti manis, yang kemudian banyak ditiru oleh para pesaingnya.

Agar tetap menjadi yang pertama, BreadTalk juga memiliki strategi bisnis, “Kami memiliki plan tahunan agar produk BreadTalk tidak sama dengan gerai bakery lain. Justru kami menciptakan produk baru yang sering diikuti gerai bakery lain,” ungkap Astrid Hendrawati, Brand Manager BreadTalk pada Pastry&Bakery saat dihubungi lewat telepon.

Hal senada disampaikan juga oleh Ucu Sawitri, selaku pengajar cake dan cokelat. Ucu Sawitri selalu mengajarkan kepada murid-muridnya untuk memanfaatkan bahan setempat yang mudah ditemukan ketika melakukan roadshow ke daerah-daerah.

Contohnya di Lampung yang terkenal dengan produksi pisang dan durian, Malang dengan produksi apel. Selain bisa menekan ongkos produksi, penggunaan bahan lokal juga bisa dijadikan salah satu produk baru yang bisa dijadikan ciri khas sebagai oleh-oleh.

Bahan-bahan tadi juga bisa ditampilkan dalam modifikasi resep. Lampung dikenal karena durian dan pisang. Kedua jenis buah tersebut murah dan mudah ditemukan. Durian bisa dijadikan mousse durian, atau brownies. Sedangkan pisang bisa dimodifikasi menjadi muffin pisang, cake dan roti. Tambahnya lagi, “Untuk memperoleh perhatian dari pasar, pelaku bisnis harus memiliki spesialisasi untuk produk apa yang akan dibuatnya. Tak hanya rasa yang patut dijual, jangan lupa untuk mempersiapkan tampilan serta packaging yang sesuai dengan produk agar menarik dan mudah dibawa. Kemudahan packaging untuk dibawa akan jadi nilai tambah karena biasanya orang membeli produk pastry dan bakery sebagai oleh-oleh ketika berkunjung ke suatu tempat. Jadi, jangan mau menjadi yang terbelakang. Selalu berinovasi dan peka terhadap selera pasar akan membuat usaha bakery selalu maju berada di posisi yang terdepan.

Pastry&Bakery/@Resi Siswandari/ Novi Amaliyah/ Rika Eridani