Pilih Pemanis Alami atau Artifisial?

Tren penggunaan bahan-bahan pemanis artifisial oleh industri makanan dan minuman kian menguat. Tak terkecuali di industri pastry dan bakery. Inovasi menjadi elemen kunci bagi industri kuliner untuk merespon kebutuhan pelanggan, termasuk ekspektasi mereka pada citarasa manis yang eksotik—tak asal manis. Gula memang identik dengan citarasa manis.


Tapi tak hanya gula yang menghasilkan manis. Terdapat berbagai jenis gula dan pemanis yang beredar di pasaran, meski hanya sedikit di antaranya yang dikenal luas di masyarakat. Jenis-jenis gula dan pemanis itu antara lain gula pasir, gula kastor, gula batu, gula merah, brown sugar, madu, vanila, muscovado, dan lain-lain. Sementara itu, terdapat pula pemanis buatan (artifisial), termasuk sacharin yang acap kita dengar.

Tren gaya hidup sehat yang dipelopori masyarakat di negara-negara maju, memunculkan asumsi umum bahwa gula berpotensi menyebabkan kegemukan dan masalah-masalah kesehatan lainnya. Femomena ini menjadi penyebab utama terjadinya peningkatan permintaan bahan-bahan pemanis buatan. Pada 2006, sebuah laporan oleh Global Industry Analysts, sebagaimana dikutip Food Navigator, menyebutkan bahwa sebagian besar (65 persen) industri pemanis artifisial terdapat di Amerika Serikat dan Eropa.

Pemanis artifisial, yang juga disebut pengganti gula, adalah campuran yang menawarkan citarasa manis seperti gula namun tanpa kandungan kalori yang sama dengan gula. Bahan pemanis itu berpotensi memberi citarasa 30 sampai 8.000 kali lebih manis daripada gula, namun dengan kandungan kalori jauh di bawah yang dibuat dengan gula (sukrosa). Setiap gram gula refinerasi mengandung 4 kalori. Sedangkan pengganti gula tidak mengandung kalori dalam setiap gramnya.

Belum tentu bebas karbohidrat

Masalah kegemukan bukanlah satu-satunya alasan yang mempengaruhi tren pertumbuhan permintaan bahan pemanis artifisial. Meningkatnya jumlah penderita diabetes, juga memberi kontribusi pada pertumbuhan permintaan tersebut. “Pemanis artifisial dapat memenuhi kebutuhan spesifik mereka yang sedang mengendalikan berat badan dan menghadapi masalah diabetes,” kata ahli nutrisi yang berbasis di New York City, Phyllis Roxland. “Keberadaan pemanis artifisial memberi kesempatan kepada banyak orang untuk menikmati berbagai jenis makanan dan minuman bercitarasa manis yang pada umumnya ‘terlarang’ bagi mereka.”

Meningkatnya masalah kegemukan dan diabetes belakangan ini memicu pertumbuhan permintaan pemanis buatan oleh industri kuliner. Bahkan Global Industry Analysts memprediksikan bahwa industri pemanis artifisial akan mencapai pertumbuhan tercepat di antara industri-industri bahan makanan.

Menyiasati ekspektasi konsumen

Citarasa pada produk makanan dan minuman tak berasal dari satu sumber saja. Berbagai bahan memberi kontribusi untuk menciptakan citarasa, untuk sebagian maupun seluruhnya. Misalnya, zat seperti emulsifier bisa digunakan untuk menghasilkan tekstur dan sekaligus citarasa, dan pada saat yang sama mengurangi penggunaan lemak maupun kalori.

Bahan perisa biasanya bersinergi dengan bahan-bahan lainnya untuk menghasilkan produk makanan, di antara bahan pewarna dan pemberi aroma. Pada produk makanan, tampilan dan aroma merupakan poin penting yang dapat dihasilkan dari kombinasi bahan-bahan tersebut.

Yang termasuk bahan perisa cukup luas, termasuk berbagai jenis gula, buah-buahan, sayuran, produk-produk berbasis susu, sampai daging hewan. Meski produk-produk tersebut juga bisa berfungsi membentuk tekstur maupun tampilan pada produk makanan. Keju, mentega, kopi, jeruk limau, kelapa, dan apel, juga merupakan bahan perisa yang umum digunakan di industri kuliner.

Sebagaimana bahan pemanis, bahan-bahan perisa bisa bersumber dari bahan alami maupun artifisial. Namun permintaan konsumen tak hanya berhubungan dengan aspek alami atau aritifisial. Sebagian konsumen sekarang juga cenderung berekspektasi mendapatkan produk makanan yang rendah kalori tapi kaya citarasa. Sementara itu, mereka juga berharap mendapatkan produk kuliner yang eksotik—lain dari yang lain.

Inovasi menjadi elemen kunci bagi industri makanan, untuk menyediakan produk dengan citarasa yang memenuhi ekspektasi mereka. Produsen perlu memadukan berbagai jenis bahan pemanis maupun perisa—untuk menghasilkan produk yang citarasanya sesuai ekspektasi pelanggannya. Sebagai contoh, menurut sebuah riset, belakangan ini kian banyak industri kuliner di Amerika Serikat menggunakan bahan perisa seperti buah jambu batu dan leci, yang mendapat apresiasi relatif bagus dari konsumen.

Belum tentu bebas karbohidrat

Pemanis artifisial tidak berpengaruh terhadap tingkat kandungan gula dalam darah. Sementara itu, banyak jenis makanan dengan pemanis buatan masih dapat mempengaruhi kandungan gula dalam darah, karena terdapat karborhidrat maupun protein lain pada makanan tersebut. Dengan kata lain, makanan dengan pemanis buatan bisa dikatagorikan bebas gula (sugar-free), tapi belum tentu bebas karbohidrat (carbohydrate-free).

Ini berkaitan erat dengan masalah kegemukan. “Kunci keberhasilan menurunkan berat badan adalah tingkat konsumsi kalori,” tutur Ruth Kava, PhD, RD, direktur nutrisi pada American Council on Science and Health (ACSH) di New York City. Ruth memberi gambaran, “Jika Anda mengonsumsi diet soda, untuk menggantikan soda bergula, Anda terhindar dari konsumsi 100 kalori. Tapi jika Anda mengonsumsi 15 cookies bebas-gula (yang mengandung kalori), untuk menggantikan 2 cookies biasa, itu tidak berarti apa-apa untuk menyelamatkan diri dari masalah kegemukan.” P&B (AY)