Solusi Hemat Biaya

Anda mungkin pernah mendengar istilah butter oil substitute (BOS). Cobalah mencari BOS pada kios bahan kue atau bahan makanan di pasar-pasar tradisional. Anda mungkin disodori apa yang disebut rumbutter/rombotter oleh penjual maupun pelanggan di kios itu.
Rumbutter/rombotter berasal dari kata dalam bahasa Belanda yang berarti roombutter alias mentega. Di sini, istilah rumbutter/rombotter digunakan untuk produk mentega kalengan yang wanginya cukup tajam.
Padahal, yang disebut mentega adalah minyak hewani, yang bisa berasal dari susu atau lemak lain pada tubuh hewan. Sedangkan butter merupakan minyak hewani yang berasal dari susu saja—biasanya susu sapi atau mamalia lain seperti kambing, domba, kerbau.
Ini mengindikasikan kekurangpahaman banyak orang mengenai produk BOS. Atau menyiratkan ketidakpedulian banyak orang di sini mengenai apa sebenarnya bahan yang mereka gunakan untuk menghasilkan produk makanan.
Sementara itu, penggunaan istilah “butter oil substitute” berpotensi menimbulkan kebingungan baru di kalangan konsumen. Terjemahan “buttter oil substitute” secara harfiah adalah “pengganti minyak butter” atau “pengganti minyak hewani yang berasal dari susu hewan ternak (mamalia).”
Namun berdasarkan komposisi bahan dan karakter fungsional yang terkandung dalam produk BOS pada umumnya, produk ini tidak dapat dikatakan sebagai pengganti butter.

Kombinasi
Produk BOS pada umumnya dihasilkan dengan mengurangi formulasi bahan alami butter, yakni susu sapi atau mamalia lainnya, dan menambahkan bahan lain yang berkarakter fungsional sama atau mendekati karakter fungsional bahan alami butter. Tujuannya, untuk mendapatkan biaya produksi lebih rendah, dibanding menggunakan butter yang seluruh bahannya dari susu. Dengan demikian, harga jualnya lebih rendah ketimbang butter.
“Ini solusi yang ditawarkan produsen ingridien untuk menyiasati harga butter oil yang jauh lebih tinggi dibanding produk substitusi ini,” kata Harianto Widjaya, National Sales Manager – Industrial Products PT Smart Tbk, salah satu produsen BOS di Indonesia.
Menurut Dwiatmoko Setiono, Managing Director PT Sekawan Karsa Mulia (SKM), salah satu supplier produk bahan roti dan kue yang berbasis di Jakarta, BOS pada dasarnya adalah kombinasi dari butter dan lemak nabati. Namun ada juga produk BOS yang merupakan kombinasi butter, lemak nabati, dan tallow (lemak hewani yang terdapat pada tubuh mamalia).
Siasat
Bagaimanapun, aroma dan citarasa yang dihasilkan dari susu maupun lemak hewani lebih sedap dibanding citarasa dan aroma margarin. Namun produsen BOS menyiasati kelemahan itu dengan mengkombinasikan margarin dan flavor untuk menguatkan aroma dan citarasanya. “Agar mendekati citarasa dan aroma butter, mereka pun membuat formulasi BOS yang mengandung butter pula,” tukas Dwiatmoko.

Kontribusi teknologi
Dengan harga BOS yang lebih murah dibanding butter, produsennya menawarkan alternatif bagi industri roti maupun kue yang pangsa pasarnya adalah kalangan menengah ke bawah. Meski kualitas produknya secara umum lebih rendah dibanding produk yang diarahkan untuk konsumen menengah atas.
Namun menurut Hardy Sambas, Direktur PT Kelston Indonesia, salah satu supplier BOS di Indonesia, kualitas produk BOS yang beredar di pasar belum tentu lebih rendah dibanding butter. {mosimage}Pada awalnya, BOS dikembangkan sebagai produk alternatif bagi pengguna butter, dengan harga yang lebih murah dibanding butter. Namun berkat kemajuan teknologi, kualitas lainnya bisa lebih baik dari butter oil aslinya.
Spotlight di Edisi ini mengajak Anda lebih memahami BOS dan penggunannya di industri bakery.