Sensasi Cokelat di Indonesia

Oey Koen Beng mempopulerkan cokelat di Indonesia. Sekitar 30 tahun kemudian, 20-an industri lokal memasok kebutuhan produk cokelat di sini. Mereka memodifikasi produknya agar klop dengan selera kebanyakan konsumen Nusantara.Sampai awal dekade 1980-an, cokelat sebagai bahan untuk cake decorating belum begitu populer di Indonesia. Popularitas itu baru bersemi dan tumbuh setelah seorang pengusaha bernama Oey Koen Beng mengimpor cokelat blok merek Braun dari Jerman mulai tahun 1981-1982. Agar cokelatnya laris-manis di pasaran, Oey Koen Beng pasang strategi: menggelar rangkaian demo membuat chocolate decorating di sejumlah kota besar di Indonesia. Ia menggandeng Yongki Gunawan, yang waktu sudah memberi kursus masak dan membuat kue di Purwokerto, Jawa Tengah, untuk menjadi instruktur alias demonstrator. “Kalau saya ditanya siapa yang mempopulerkan cokelat di Indonesia, jawaban saya adalah Pak Oey Koen Beng,” tutur Yongki Gunawan kepada Pastry & Bakery saat ditemui di rumahnya di Kompleks Perumahan Alam Sutera, Serpong, Tangerang, pertengahan April lalu. Dari kegiatan-kegiatan demo itu, dari waktu ke waktu kian banyak orang di Indonesia tahu bahwa cokelat bisa dibentuk sedemikian rupa untuk menghasilkan dekorasi nan memikat. Walhasil, dalam tempo sekitar setengah tahun kemudian, boom! Cokelat merek Braun jadi produk cokelat paling populer dan terlaris di sini. Sukses Oey Koen Beng mengilhami pengusaha lainnya untuk ikut menikmati boom cokelat itu. Hingga kian berkembanglah industri pengolahan kakao lokal, dan beberapa di antara industri lokal itu spotlightmenghasilkan produk cokelat yang sekarang kondang di negeri ini. Kini, di negeri ini hidup sekitar 20 industri cokelat. Sementara itu, popularitas cokelat sudah mengakar luas, sampai pelosok-pelosok Negeri. Cokelat dari industri lokal pada umumnya telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan selera kebanyakan konsumen Indonesia. Produk cokelat lokal secara umum diproduksi dengan mengurangi kandungan lemak cokelat (cocoa butter)—agar sensasi pahit khas cokelatnya tak begitu terasa—dan menambahkan lemak nabati lainnya, plus bahan-bahan lain agar klop dengan selera konsumen lokal yang umumnya lebih menyukai cokelat bercitarasa manis. Langkah ini sekaligus mengurangi biaya produksi, sehingga makin banyak orang sanggup membelinya. Maklum, makin tinggi kandungan cocoa butter dalam produk cokelat, ongkos produksinya makin besar, sehingga harga jualnya makin tinggi pula. “Bayangkan, harga biji cokelat sekarang sekitar Rp 80 ribu, tapi di pasaran kita bisa menemukan cokelat yang harganya Rp 6 ribu per kilogram,” papar Yongki, yang selama empat hari berturut-turut tampil sebagai demonstrator chocolate decorating di pameran Food & Hotel Indonesia pertengahan April lalu. “Padahal dengan harga biji kakao setinggi itu, kalau kita membeli cokelat yang harganya paling tidak Rp 30 ribu, baru bisa dibilang makan cokelat.