fbpx

Konsep Terbuka Atmosfir Tradisional

Saking banyaknya outlet makanan dan minuman di Stasiun Utama Kereta Api Kota Taipei (Taipei Main Station), Taiwan, stasiun ini seakan sekaligus berfungsi sebagai pusat jajan serba ada. Nah, salah satu yang menarik perhatian Pastry & Bakery saat berada di stasiun ini adalah sebuah outlet kue mochi dari Jepang.
Tak hanya kuenya yang ala Jepang, outletnya pun dikembangkan dan dioperasikan oleh perusahaan Jepang, Japan Cookies (JC) Ltd. JC Ltd mengaplikasikan konsep outlet terbuka, yang membuat outlet ini tampil beda dibanding outlet lain pada umumnya di Tokyo Main Station.
Ming Wu Chi, Supervisor JC Ltd, saat ditemui Pastry & Bakery di outlet tersebut mengungkapkan, pihaknya memilih konsep stan terbuka demi menarik lebih banyak pengunjung. “Kami menyadari bahwa produk kami belum begitu populer di sini. Itulah mengapa kami mengembangkan konsep terbuka: agar pengunjung bisa dengan leluasa melihat dan tertarik pada bentuk kue kami, mencicipi, dan selanjutnya memutuskan membeli,” ungkap Ming, dalam Bahasa Inggris beraksen Taiwan.
Modifikasi
Stan ini men-display kue mochi atau yapun mau che dalam Bahasa Taiwan dengan wadah terbuka. Sehingga pengunjung bisa dengan leluasa melihat, memegang, sampai memilih varian produk mochi yang mereka minati. Bahkan pengunjung pun mencicipinya—karena stan ini menyediakan potongan-potongan kecil mochi untuk dicoba (tester).
JC Ltd menawarkan beragam item mochi yang masing-masing menghadirkan citarasa isi (filling) tersendiri. Di antaranya ada yang bercitarasa original, teh hijau, lemon, strawberry, cokelat, kopi, peach, dan kacang.
Pastry & Bakery mencicipi salah satunya, dan mendapati kue ini bertekstur kenyal—seperti kue dari bahan tepung kanji pada umumnya. Dengan isi seperti gula halus berwarna putih.
Ada beberapa item yang bagian atasnya ditaburi gula putih untuk menguatkan citra kue bercitarasa manis. Di antara pada item dengan isi bercitarasa original, kacang hitam, dan teh hijau.
Pada mochi dengan isi bercitarasa cokelat, kacang, strawberry, peach, ada taburan gula putih yang sudah diberi esens sesuai citarasa isinya. “Taburan gula ini untuk menguatkan citarasa kue secara keseluruhan. Ini hasil modifikasi kami, dan hasilnya jauh lebih laris,” imbuh Ming, membuka sedikit rahasianya.
Harganya 100 NT$ (sekitar Rp 29.000) per buah. Dengan minimum pembelian 1 boks isi 4 kue.
Nampan kayu
dan kimono
Untuk menghadirkan citra tradisional Jepang, JC Ltd memajang kue-kue itu pada nampan khusus yang terbuat dari kayu—sebagaimana yang digunakan untuk menyajikan kue dalam tradisi masyarakat Jepang. Pelayannya mengenakan yukata (kimono khusus untuk dikenakan pada musim panas).
Ming mengungkapkan, outlet ini bisa menjual sekitar 2000 (500 boks) kue mochi per hari. “Pembeli kami tak hanya warga lokal, tapi juga wisatawan mancanegara. Antara lain dari Thailand, China Daratan, Malaysia, Indonesia, dan bahkan Amerika Serikat. Mereka pada umumnya membeli produk kami untuk oleh-oleh. Karena kue ini bisa tahan sekitar 1 minggu bila disimpan dalam lemari es.”
Sukses JC Ltd di Taipei mengindikasikan bahwa kue tradisional dari satu negara punya potensi menjadi produk yang laris di negeri orang. Namun perlu didukung strategi memikat pelanggan. Termasuk strategi penataan outlet, yang memudahkan calon pembeli mengenali produk, dan merasakan atmosfer tradisional (kultural) di negara asal makanan itu.