fbpx

Woro Prabandari Melawan Stigma

Mengapa laki-laki mendominasi posisi chef maupun pastry chef di hotel berbintang? Simak penuturan satu di antara segelintir perempuan Indonesia yang mencapai posisi itu.. Sudah puluhan kali masyarakat di Negeri ini memperingati Hari Kartini setiap bulan April,

yang mengingatkan kita tentang persamaan hak dan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki dalam berbagai sendi kehidupan, termasuk dalam karir profesional. Tapi, faktanya, perempuan masih minoritas untuk posisi chef maupun pastry chef pada hotel-hotel berbintang di Indonesia. Mengapa?

Pastry & Bakery menggali jawaban atas pertanyaan itu dari Woro Prabandari, Pastry Chef Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Dialah satu di antara segelintir perempuan Indonesia yang mencapai posisi tersebut. “Ada stigma bahwa laki-laki lebih mampu memimpin. Selain itu, laki-laki dianggap bisa siap setiap saat dibutuhkan. Sedangkan perempuan, apalagi mereka yang sudah berkeluarga, cenderung tidak siap setiap saat—karena sibuk mengurus keluarga,” papar Woro, saat kami menemuinya di

C’s Steak & Seafood Restaurant di Hotel Grand Hyatt Jakarta, pertengahan Maret lalu.

Pertanyaan kami berikutnya, di tengah stigma itu, bagaimana ia mencapai posisinya sekarang?

Woro mengembangkan komitmen kuat dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. “Jangan takut bekerja dengan waktu yang lebih panjang, dan jaga kondisi fisik agar tetap fit dalam waktu lebih lama,” tambah ibu dari tiga anak yang semuanya laki-laki ini.

Di samping itu, Woro mengembangkan semangat “to be number one.” Ia menghendaki hotel, pastry shop, café, ataupun resto di mana ia eksis di dalamnya menjadi No. 1. Untuk menjadikan tempat kerjanya itu menjadi No. 1, ia bekerja dengan dedikasi dan kemampuan terbaiknya.

Perempuan berjilbab ini sudah belasan tahun berkarir di Grand Hyatt Jakarta. Mulai dari posisi Commis hingga posisinya sekarang.

Hal lain yang memungkinkan ia mencapai posisi ini adalah karakternya yang perfeksionis. Karakter ini terekspresikan antara lain dari tampilan kreasi produk-produk pastry-nya yang secara umum bercitra simpel, dengan finishing rapi dan berorientasi sempurna.

Tak terbatas

Dalam pandangan Woro Prabandari, ranah pastry tak hanya menyediakan kesempatan yang sama bagi perempuan maupun laki-laki, tetapi juga menghamparkan ruang yang tak terbatas bagi siapa saja untuk menghadirkan kreasi seni dalam bentuk kue. “Di pastry, kita bisa bebas berkreasi dengan memadukan berbagai bahan, untuk menciptakan produk pastry dengan kualitas setinggi mungkin.”

Lalu apa daya tarik lain dari dunia pastry, yang membuat ia betah berkecimpung belasan tahun dalam bidang ini? Jawabnya, karena penggemar produk pastry pun tak terbatas. “Siapa yang tidak suka pastry? Semua orang suka, meskipun dengan derajat apresiasi berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya, atau antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya.”

Tren pastry 2010

Cokelat adalah salah satu ingridien favorit perempuan lulusan Akademi Pariwisata Trisakti, Jakarta ini. Pasalnya, cokelat amat fleksibel untuk dipadukan dengan bahan lain, baik sebagai perisa, filling, maupun topping kue, dan menghasilkan presentasi artistik. “Kita perlu mengenali karakteristik cokelat itu sendiri, agar bisa memadukannya secara tepat dengan bahan dan memuaskan penikmatnya,” tutur perempuan yang tengah melanjutkan studi di bidang perhotelan ini.

Menurutnya, dengan pengetahuan yang memadai mengenai karakteristik cokelat, seorang pastry chef bisa menghasilkan produk pastry dengan sensasi citarasa eksotik, termasuk dengan kombinasi yang ekstrim antara cokelat dengan bahan lain. Seperti Chocolate Chili Cake yang baru-baru ini dihadirkan di Grand Hyatt dan, menurut Woro, mendapat apresiasi cukup menggembirakan dari pelanggan. Meski posisi best seller di Grand Hyatt masih ditempati Opera Cake, Tiramisu, dan Cheese Cake.

Woro melihat tren pastry sekarang diwarnai meningkatnya penggunaan sugar modeling sebagai ornamen dekorasi, dan pengurangan kadar gula dalam formulasi bahan kuenya. Tren ini mulai terlihat tahun lalu dan menguat pada 2010 ini. “Kita di Grand Hyatt menyesuaikan dengan tren ini,” tambahnya.

Untuk Pembaca Pastry & Bakery, Woro berbagi resep Apple Crispy Taart, Chocolate Almond Ganache and Sourcream Ice Cream, dan Dark Chocolate Mousse Cone, Raspberry Jelly and Vanilla Sauce. Kami menampilkan kedua resep tersebut di Rubrik CreativeRecipe.

P&B (NA)

BOKS:

Woro Prabandari Career Highlights

1998 – sekarang: Pastry Cef, Grand Hyatt Jakarta

1997 – 1998: Assistant Pastry Chef, Grand Hyatt Jakarta

1993 – 1996: Sous Chef Pastry, Grand Hyatt Jakarta

1992 – 1993: Chef de Partie Pastry, Grand Hyatt Jakarta

1992: Demi Chef Pastry, Grand Hyatt Jakarta.

1991: Commis Pastry, Grand Hyatt Jakarta

1990: Pastry Apprentice, Aryadutta Hotel Jakarta

Prestasi dalam Kompetisi

1998: Medali Perak Katagori Dessert Platter Class, Jakarta Salon Culinaire

1997: Medali Perak Katagori Dessert Platter Class, Jakarta Salon Culinaire

1997: The Best Pastry Chef, Jakarta Salon Culinaire

1992: Medali Emas Katagori Dessert Platter Class, Singapore Salon Culinaire

1991: Juara I Kategori Pudding, Lomba Cipta Pastry & Dessert di Jakarta