fbpx

Lukisan Abstrak dalam Sepotong Kue - Itim Suherman

Pastry&Bakery tergoda untuk melontarkan pertanyaan itu kepada Itim Suherman, 54,  Pastry Chef Le Méridien Hotel, Jakarta ini. “Kadang-kadang saya menghayal tentang suatu bentuk, atau mencari inspirasi dari majalah, internet—sebelum menciptakan karya dekorasi.  Tapi saya cenderung mengaplikasikan secara spontan apa yang terlintas di benak saya,” jawab Chef Itim ketika kami pada satu sore di bulan November lalu
menemuinya di tempat kerjanya, Le Meridien Hotel, Jakarta.
     Lalu apa yang membuatnya tergerak untuk mengekspresikan bentuk-bentuk abstrak? “Entahlah, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk menampilkan sesuatu yang abstrak,” tukas pria yang telah berkarir di bidang kuliner sejak 1972 ini.
      Ia suka melukis dan mengapresiasi lukisan-lukisan abstrak. Dan baginya, mendekorasi kue tak ubahnya melukis dengan kue sebagai medianya.
     Jika kita mengenal aliran ekspresionisme dalam khasanah seni lukis, yang melahirkan pelukis besar seperti Affandi, maka mungkin ada ekspresionisme pula dalam seni pastry dan bakery. Dan, Itim Suherman adalah seorang ekspresionis dalam lingkup seni pastry dan bakery.
      membuat kue berpenampilan mempesona. Tapi juga ekspresi citarasa. Itulah mengapa ia suka bereksperimen: memadukan ingridien tertentu dengan ingridien lainnya. Untuk menghasilkan citarasa baru yang lebih memukau.
     Salah satu hasil eksperimennya, baik dalam hal tampilan maupun citarasa, adalah Pelangi Cake, yang mengantarnya memenangkan sebuah kompetisi cipta karya kuliner tingkat nasional beberapa tahun lalu. Pelangi Cake bahkan pernah menjadi cake khas dari salah satu hotel tempat ia pernah bekerja.
Menurut Itim, cake ini sebenarnya merupakan perpaduan cake lokal, yakni lapis Surabaya, yang dipadukan dengan cokelat ganache ala Eropa.
     “Lapis Surabaya sudah sangat populer—banyak orang suka. Kalau dipadu dengan cokelat, orang akan memandang kue ini lebih wah dan elegan,” tutur Itim, tentang proses kreatifnya untuk melahirkan Pelangi Cake. “Lapis Surabaya biasanya hanya menggunakan selai.  Setelah dimodifikasi dengan sentuhan Eropa, yakni  menggunakan cokelat sebagai ganache, kue ini jadi punya daya tarik tersendiri,” tambahnya.
    Itim memang suka memanfaatkan cokelat sebagai media untuk berkreasi. Pasalnya, cokelat masih menjadi salah satu makanan yang wah dan disukai banyak orang di Indonesia. Apalagi cokelat juga salah satu ingridien multifungsi. “Cokelat bisa dipadukan dengan berbagai ingridien lain untuk memperkaya citarasa maupun tampilannya.”
     Nilai plus lain dari cokelat, menurut Itim, adalah mudah dibentuk. Sehingga menyediakan ruang kreatif yang amat luas baginya.

Berbagi pengetahuan
    Dalam pertemuan kami dengan Itin sore itu, kami menyaksikan passion dan kepekaan artistik dari Pastry Chef ini untuk menampilkan bentuk dekorasi dari bahan cokelat. Ia memperagakan kepada kami, dan Anda, bagaimana proses kreatifnya untuk menampilkan Chocolate Marquise Cake yang mempesona, lengkap dengan cokelat ganache dan garnish yang bentuknya ia kembangkan (lihat di Rubrik CreativeRecipe).
     Setelah itu, ia memperagakan bagaimana membuat Millefeuille Cake (sejenis puff pastry). Millefeuille berarti seribu lapisan (thousand layers), yang merupakan cake favorit pelanggan Le Meridien Hotel. Anda juga bisa mengikuti proses pembuatannya di Rubrik Creative Recipe.
     Itim dengan hati terbuka mendemonstrasikan proses pembuatan kue itu. Karena ia memang suka berbagi pengetahuan, apalagi kepada para juniornya. Aktivis di Assocation of Culinary Professionals (ACP) dan Jakarta Professional Pastry Club (JPPC) ini bersyukur karena relatif banyak juniornya sekarang punya karir membanggakan di berbagai hotel berbintang di Jakarta. P&B(NA)  | FOTO-FOTO: RICHARD