fbpx

Yongki Gunawan Belajar dan Berbagi

      Menjadi seorang ahli ternyata tidak cukup hanya dengan memiliki pengalaman saja, pendidikan juga merupakan faktor penting penentu seseorang bisa sukses atau tidak. Inilah pemikiran yang selalu diterapkan oleh Yongki Gunawan yang kini telah sukses menjadi seorang ahli di bidang baking and cooking.

       Sejak kecil, Yongki Gunawan memang menyukai dunia masak-memasak. Meskipun banyak tanggapan negatif tentang kegemarannya memasak, tetapi ia tak pernah perduli dengan itu semua, “Dulu, saya selalu dicemooh orang, mereka mengatakan kalau laki-laki tidak pantas berkutat di dapur untuk memasak,” ujarnya sambil mengenang masa lalunya. Bukan seorang Yongki Gunawan jika harus menyerah di awal, ia pun tetap meneruskan kegemarannya memasak dan menjadikan pilihan karirnya, “Saya tidak mau ambil pusing dengan omongan orang, saya hanya berprinsip kalau suatu saat saya mengalami kesusahan, siapa yang akan menolong saya kalau bukan diri saya sendiri,” tambahnya.

Selalu Rajin Belajar

       Tidak ingin setengah-setengah dalam menekuni bidang ini, Yongki pun bertekad untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Dari sekolah perhotelan hingga sekolah keluar negeri ia jalani, demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang ahli kuliner yang sukses. Menurut Yongki, seseorang itu perlu memiliki pendidikan karena dengan demikian ia bisa mengetahui apa yang belum dan seharusnya diketahui oleh orang lain,”Melalui sekolah kita memiliki pengetahuan dan pandai mengkreasikan sesuatu. Misalnya kita jadi tahu sifat terigu, sifat gula, bisa tahu kalau minyak tidak bersahabat dengan air. Melalui pengetahuan tersebut saya bisa belajar untuk menyatukan adonan yang mengandung air dengan minyak,” ungkap pria yang ramah senyum ini. ”Hal-hal seperti ini sangat membantu, pernah saya diundang ke luar negeri untuk demo membuat cake kemudian saya diberikan bahan yang beda dengan yang digunakan di Indonesia, nah kalau saya tidak tahu bagaimana sifat bahan tersebut pasti saya tidak akan bisa membuatnya karena setiap bahan pasti memiliki kandungan yang berbeda,” jelas pria yang merayakan ulang tahunnya setiap 15 Desember ini.

       Dalam proses belajar, Yongki juga pernah mendapat pertentangan. Hal itu ia alami saat mengenyam pendidikan di salah satu sekolah terkemuka di Bandung, Jawa Barat. Ia tidak melanjutkan pendidikan, karena merasa bertentangan dengan hati nuraninya, “Saya tidak bisa berkreasi sesuai dengan keinginan saya, saya merasa dibatasi,” ungkapnya. Meski begitu Yongki mengatakan jika dari sanalah ia mendapatkan banyak pelajaran yang cukup berharga dan membukakan peluang untuk berkarir di dunia baking and cooking.

       Menurut Yongki menuntut ilmu tidak boleh terbatas oleh apapun dan siapapun, jangan pernah takut untuk belajar sesuatu. Karena apa yang dipelajari, nantinya mungkin akan dapat berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, “Orang yang hanya berpengalaman tidak saja cukup, dia juga harus memiliki knowledge untuk bisa tahu mengenai hal apapun,” ujar Yongki yang menyenangi petuangan kuliner tiap bepergian ke luar kota atau keluar begeri.

       Biarpun sudah lebih dari 25 tahun berkarya, tidak menyurutkan semangat Yongki Gunawan untuk terus mempelajari hal-hal baru dalam dunia kuliner, ”Sekarang saya sedang belajar masakan Indonesia, dan pengetahuan yang saya dapat dari masakan Indonesia adalah masakannya selalu menggunakan bumbu bawang putih, bawang merah, salam dan laos,” ujarnya.

Senang Berbagi Ilmu

       Walau kini ia sudah memiliki banyak pengetahuan, namun Yongki Gunawan tidak pelit untuk berbagi ilmu serta pengalamannya kepada orang lain. Buktinya ia memilih untuk menjadi pengajar di salah satu sekolah khusus baking and cooking di Jakarta. Tidak sedikit orang yang mengikuti kelasnya tak hanya dari Jakarta atau luar kota saja, bahkan tak sedikit murid-murid yang datang dari luar negeri seperti Malaysia atau Singapura.

       Yongki menampik dengan keras bahwa ia sukar ditemui, sehingga kesan eksklusif melekat pada dirinya, “Kalau sedang mengajar saya memang tak mau diganggu dengan menerima telepon. Kasihan murid-murid saya yang terganggu dengan waktu tersita menerima telepon atau tamu-tamu. Tapi kalau sedang santai, dengan senang hati saya mau ngobrol atau membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan resep-resep,” jelasnya. “Maka setelah saya punya asisten pribadi, masalah komunikasi sangat terbantu karena saya dibantu mengatur jadwal dan ada yang menolong menerima telepon saat saya mengajar pada sekitar jam 10.00 pagi hingga jam 16.00 sore,” terang Yongki.

       Ada anggapan bahwa belajar dengan Yongki Gunawan membutuhkan biaya yang lebih, menanggapi hal ini Yongki pun berkomentar “Saya akui memang membutuhkan biaya yang cukup besar, karena saya tidak pernah memberikan ilmu setengah-setengah,” jelasnya. Ia ingin pengetahuan yang ia bagikan kepada orang lain bisa berguna di kemudian hari dan tidak hanya sekedar mengikuti kursus saja, ”Sekarang ini dalam kehidupan berumah tangga, seorang suami tidak bisa membiayai kehidupan keluarga sendiri karena biaya hidup yang tinggi. Nah, di sini istri juga harus mau turun tangan untuk membantu, kalau dia punya keahlian seperti memasak pastinya bisa digunakan untuk berbisnis juga,” tegas Yongki. Sambungnya, “Saya ingin sepulang dari kursus, murid-murid saya terbuka pikirannya untuk berorientasi pada bisnis,” jelasnya. Lanjutnya lagi, “Bahkan pada kesempatan tertentu saya juga mengajar gratis dalam rangka amal untuk kegiatan gereja atau pengajian-pengajian. Selain berbagi ilmu memasak atau membuat kue, saya selalu mendorong siapa saja yang mengikuti kursus saya untuk bisa mengembangkan usaha untuk memperbaiki perekonomian.”

        Tiap kali mengajar Yongki selalu memberikan materi-materi baru, misalnya di negara lain sedang ada trend apa, “Sehingga orang bisa tahu dan bisa membentuk karakter yang sesuai dengan kebiasaan atau disesuaikan lidah kita sendiri. Untuk kelas memasak saya selalu mengajar masakan Indonesia. Setidaknya kita harus turut serta melestarikan warisan resep-resep asli masakan Indonesia,” ucap Yongki menutup pembicaraan dengan Pastry&Bakery di kediamannya yang asri di bilangan Alam Sutera, Tangerang.

P&B/Mega Murti, Rika Eridani, foto-foto: Richard R. Mandala