fbpx

Belajar dari Kesalahan

     Pengalaman selama 10 tahun sebagai chef tak lantas membuat Yap Chern Chee berpuas diri. Pria kewarganegaraan Malaysia ini merasa belum mencapai prestasi paling gemilang dalam bidang kuliner. Dan ia menyadari bahwa dirinya akan bisa mencapai puncak dengan dukungan orang-orang di sekitarnya.
       Pastry&Bakery menemui Yap di outlet Bakerzin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, suatu siang pertengahan Juli lalu. Saat Pastry&Bakery memintanya mengungkapkan kesulitan yang dialaminya saat mulai menjalankan perannya sebagai Chef di Bakerzin Indonesia, Yap tersenyum dan mengernyitkan kening, seperti berusaha mengingat-ingat sebuah fragmen di masa lalunya.
      ”Tentu, saya menghadapi banyak sekali kesulitan,” ujar Chef berusia 30 tahun ini.
Kesulitan terbesarnya adalah menghadapi budaya kerja di Indonesia yang relatif lambat, dibanding di Singapura. Yap terbiasa dengan budaya kerja masyarakat Singapura cepat dan tuntas. Sementara itu, ia menghadapi kesulitan untuk berkomunikasi dengan para stafnya. Lantaran belum menguasai Bahasa Indonesia, adakalanya pesan yang ia sampaikan kepada stafnya mendapat tanggapan yang tidak ’nyambung’.
         ”Pernah saya marah kepada staf saya karena kesalahan yang mereka perbuat. Tapi mereka malah senyum-senyum. Tidak mengerti apa yang saya katakan. Hal itu benar-benar membuat saya kesal,” tukasnya, seraya menggeleng-gelengkan kepala.
      Situasi ini menyebabkan mekanisme kerja di Bakerzin Indonesia agak semrawut. Pendiri Bakerzin, Daniel Tay, pun terbang ke Jakarta untuk mengatasi masalah ini. Daniel, yang dikenal berkarakter tegas, langsung mengkritik budaya kerja yang diterapkan Yap. Pasalnya, Yap mengadopsi budaya kerja masyakat Singapura untuk diterapkan di Indonesia. Padahal budaya kerja di kedua negara itu tak persis sama.
      ”Saya menarik kesimpulan dari situasi ini, bahwa saya tidak bisa memaksakan budaya kerja yang sesuai kemauan saya namun tidak sesuai bagi mereka,” tuturnya. ”Jika saya terus memaksakan, malah memperburuk kinerja tim.”

Bertemu Daniel Tay
      Perkenalannya dengan Tan Le Kun, memungkinkan Yap belajar lebih dalam mengenai pastry dari Chef asal Singapura itu. Dengan bekerja di bawah Ten Lee Kun,
ukses dalam karir di pastry.
      Selanjutnya, pertemuan Yap dengan Daniel Tay pada 2001 mengantarkannya fokus pada Bakerzin Singapura. Setahun kemudian, Yap menerima tugas dari Daniel untuk mengelola peluasan jaringan bisnis Bakerzin ke Indonesia.
”Daniel mempersiapkan saya. Menjelang keberangkatan saya ke Jakarta, ia mengajak saya berkunjung ke beberapa negara di dunia untuk melihat langsung bakery dan pastry di sana. Saya senang karena Daniel sangat terbuka dan tak segan berbagi ilmunya,” ujar Yap.

Ingin punya
outlet sendiri
Yap menghabiskan cukup banyak masa kecilnya untuk membantu sang ibu berjualan kue tradisional China di pasar. Tak lama setelah ayahnya meninggal dunia, dan Yap lulus dari sekolah menengah atas, ia mengadu nasib ke Singapura—dengan direstui ibunya.
      Di Singapura, pada pagi hari Yap bekerja di toko kue tradisional Taiwan, malamnya belajar di sekolah bakery. Ia mengaplikasikan hasil belajarnya dari sekolah bakery di toko kue tersebut.
       “Saya mempelajari teknik dasar pembuatan produk-produk bakery, pastry, dan kue tradisional hanya dalam periode dua tahun. Setelah itu, saya 
      mengembangkan kemampuan secara otodidak, dengan banyak belajar pada orang-orang hebat seperti Tan Le Kun juga Daniel Tay,” tukas ayah dari seorang anak perempuan berusia 7 tahun ini.
       Pastry&Bakery menanyakan apa yang ia mau capai dalam lima tahun mendatang. Yap  menjawabnya sembari tersenyum dan dengan intonasi ringan seperti sedang bercanda, “Mungkin pada saat itu Anda akan mewawancarai saya di outlet milik saya sendiri.”